Rupiah Terpeleset karena Investor Hati-hati Cermati Data Ekonomi AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah melemah atau terpeleset terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (7/1/2025) pagi seiring penguatan greenback di pasar global dan sikap investor yang masih berhati-hati menunggu arah kebijakan moneter AS. Nilai tukar rupiah turun 0,16% ke posisi Rp 16.785 per dolar AS, mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat terhadap mata uang negara berkembang.
Dolar AS menguat terhadap dolar Singapura sebesar 0,02%, baht Thailand 0,07%, ringgit Malaysia 0,13%, serta peso Filipina 0,12%. Pada saat yang sama, yuan China juga melemah 0,08% terhadap dolar AS.
Penguatan dolar AS berlangsung meski indeks dolar AS atau DXY bergerak di posisi 98,53, melemah 0,05%. Pergerakan ini menunjukkan adanya tarik-menarik sentimen di pasar, ketika investor tetap mempertahankan posisi pada aset dolar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca Juga
Rupiah Tertekan Dolar AS di Selasa Sore, Bertengger di Rp 16.762 per US$
Di sisi lain, dolar AS melemah terhadap euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya masing-masing sebesar 0,08%. Dolar AS juga melemah terhadap yen Jepang 0,03% dan won Korea Selatan 0,06%, menandakan dinamika pasar yang tidak seragam antar-kawasan.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menjelaskan bahwa investor mencermati rangkaian data ekonomi utama AS yang belakangan menunjukkan sinyal pelemahan. Indikator ekonomi terbaru mengindikasikan momentum pertumbuhan mulai melambat, sehingga memicu spekulasi arah kebijakan moneter ke depan.
PMI manufaktur AS menandakan kontraksi sektor manufaktur terdalam sejak 2024. Sementara itu, PMI di sektor jasa versi S&P Global direvisi lebih rendah, mengindikasikan pelemahan lanjutan pada sektor jasa, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi AS.
Presiden Federal Reserve Richmond, Thomas Barkin menyatakan bahwa kebijakan moneter ke depan memerlukan penilaian yang sangat cermat. Sementara itu, Anggota Dewan Gubernur The Federal Reserve (the Fed), Stephen Miran menilai bank sentral AS mungkin perlu memangkas suku bunga lebih dari 50 basis poin pada 2026 jika tekanan perlambatan ekonomi berlanjut. “Pasar uang saat ini memperkirakan dua kali penurunan suku bunga masing-masing 25 bps oleh The Fed,” kata Andry.
Baca Juga
Dolar AS Perkasa, Rupiah Tertekan di Tengah Krisis Venezuela
Menurut proyeksi Bank Mandiri, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 16.710-16.790 per dolar AS. Kisaran ini mencerminkan ruang fluktuasi yang masih lebar seiring pasar menanti kepastian arah suku bunga AS dan perkembangan data ekonomi global.

