Hari Kedua 2026, Rupiah Tertekan Isu FOMC dan Konflik Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengakhiri hari kedua di tahun 2026 dengan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah, dalam data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, berada di posisi Rp 16.725 per US$.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan risalah rapat Federal Open Market Committee atau FOMC Desember menunjukkan pendapat pejabat the Fed yang terbelah. Beberapa pendapat menyebut bahwa suku bunga acuan atau FFR akan dibiarkan tak berubah sementara waktu. Akan tetapi, beberapa yang lain menilai kemungkinan penurunan suku bunga lebih lanjut ketika inflasi menurun.
Pandangan ini menjadi perhatian para investor. Selain pendapat pejabat the Fed, faktor utama yang jadi perhatian investor yaitu konflik Rusia-Ukraina yang dipastikan belum mereda.
Presiden AS, Donald Trump juga disebut meningkatkan tekanan terhadap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Ini ditandai dengan dijatuhkannya sanksi kepada empat perusahaan dan kapal tanker minyak yang beroperasi di Venezuela.
Baca Juga
Membuka Tahun dengan Melemah, Rupiah dalam Ancaman Volatilitas Ekonomi Global
Dari dalam negeri, S&P Global mencatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia sebesar 51,2 pada Desember 2025. Angka tersebut turun dari angka November 2025 yang sebesar 53,3.
Pendorong utama ekspansi tersebut berasal dari kenaikan pesanan baru yang terus berlanjut. Walaupun laju pertumbuhan permintaan melambat, perusahaan melaporkan bahwa peluncuran produk baru dan bertambahnya jumlah pelanggan menjadi faktor utama peningkatan penjualan.
Perbaikan ini didorong permintaan pasar domestik. Sementara itu, pesanan ekspor baru kembali menurun.
Seiring meningkatnya permintaan, aktivitas produksi juga terus bertumbuh selama dua bulan berturut-turut. Meski demikian, peningkatan output masih terbatas dan hanya meningkat secara marjinal karena kelangkaan bahan baku yang dialami sejumlah produsen.

