Menjelang Libur, Rupiah Menguat Tipis Hari Ini Saat Dolar AS Tertekan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (23/12/2025), seiring pelemahan mata uang global tersebut dan meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral The Fed pada awal tahun depan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat 0,01% ke level Rp 16.776 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi di tengah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat yang melemah terhadap mayoritas mata uang utama dan regional.
Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) tercatat melemah 0,21% ke level 98,07. Pelemahan dolar AS terpantau meluas ke mata uang negara mitra dagang Indonesia, mencerminkan sentimen global yang cenderung berhati-hati menjelang libur akhir tahun.
Dalam perdagangan regional, dolar AS melemah terhadap dolar Singapura dan baht Thailand masing-masing sebesar 0,16%, serta tertekan 0,27% terhadap ringgit Malaysia. Tekanan juga terlihat terhadap yuan China sebesar 0,08% dan yen Jepang sebesar 0,48%, sementara di kawasan Eropa dolar Amerika Serikat turun 0,13% terhadap euro dan 0,17% terhadap poundsterling Britania Raya.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro menjelaskan pelemahan dolar Amerika Serikat dipicu perhatian investor terhadap data pasar tenaga kerja terbaru. Data tersebut menunjukkan perlambatan perekrutan dengan tingkat pengangguran naik ke level 4,6%.
Baca Juga
Rupiah Menguat Tipis Terhadap Dolar AS, Imbas Aksi Suku Bunga Bank Sentral Inggris dan Eropa
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga acuannya pada awal 2026. Di sisi lain, aktivitas perdagangan global relatif sepi menjelang libur Natal, sehingga pergerakan pasar cenderung terbatas.
Perhatian pelaku pasar kini beralih pada rilis data ekonomi AS yang sempat tertunda dan dijadwalkan keluar pada akhir pekan ini. Data tersebut mencakup estimasi produk domestik bruto (PDB) yang menjadi indikator penting untuk mengonfirmasi proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi secara bertahap.
Dari kawasan Eropa, pasar saham ditutup melemah pada perdagangan Senin (22/12/2025) waktu setempat. Indeks CAC 40 Prancis turun 0,37% ke level 8.121,07, sementara indeks DAX Jerman melemah 0,02% ke posisi 24.283,97.
Tekanan di pasar Eropa muncul setelah China mengenakan tarif 45% terhadap produk susu asal Eropa sebagai bagian dari kebijakan pengetatan di sektor pangan dan minuman beralkohol. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran terhadap kinerja ekspor dan sentimen pasar saham regional.
“Faktor lain yang turut menekan sentimen pasar adalah meningkatnya kehati-hatian investor menjelang pekan perdagangan yang dipersingkat karena libur, serta volume transaksi yang menurun sehingga mendorong indeks-indeks utama bergerak melemah,” kata Andry.
Baca Juga
BI Tegaskan Rupiah Wajib Diterima Meski Transaksi Digital Melesat
Di dalam negeri, pada perdagangan awal bursa pukul 10.18 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,31% atau turun 24,5 poin ke level 8.621. Pelemahan ini terjadi setelah pada penutupan Senin (22/12/2025) IHSG menguat 0,4% ke posisi 8.646.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, arus masuk bersih investor asing tercatat mencapai Rp 1,3 triliun, mencerminkan minat selektif investor di tengah kondisi pasar global yang cenderung berhati-hati.

