Indonesia Butuh Investasi Rp308 Triliun untuk Perkuat Ekonomi Sirkular
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), menekankan adanya kebutuhan mendesak untuk investasi terhadap pengembangan infrastruktur pengelolaan sampah dalam negeri. Bappenas mencatat, Indonesia menghasilkan setidaknya 5,5 juta ton sampah plastik setiap tahunnya.
Menurut Sekretaris Kementerian PPN/Bappenas Teni Widuriyanti, saat ini hanya terdapa 22% sampah plastik yang berhasil dikumpulkan untuk didaur ulang. Ia menambahkan, sebagian besar pasokan daur ulang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Tingkat utilisasi industri daur ulang disbut oleh Teni juga masih jauh dari optimal, hanya sekitar 40%.
Pada subsektor bioplastik, Teni mengatakan tingkat utilisasi berada pada 41% dengan ketergantungan tinggi pada polimer berbasis pati impor.
"Data ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk investasi pada infrastruktur pengolahan sampah, peningkatan teknologi pengurangan kontaminasi bahan baku, riset desain untuk daur ulang (design for recycling), serta standardisasi bioplastik," kata Teni saat menyampaikan sambutan pada agenda policy dialogue Bappenas yang bekerja sama dengan Global Green Growth Institute (GGGI) di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Selain itu, menurutnya dibutuhkan insentif fiskal dan nonfiskal untuk membangun pasar yang berkelanjutan bagi produk daur ulang dan bioplastik.
Baca Juga
Bappenas Prioritaskan Ekonomi Sirkular Plastik dalam RPJMN 2025–2029
"Situasi ini selaras dengan RPJMN yang mendorong percepatan ekonomi hijau melalui penguatan industri ramah lingkungan dan pengurangan jejak karbon lewat efisiensi material," ungkapnya.
Teni menuturkan, potensi investasi global sektor sirkularitas plastik sangat besar. Ia menyebut nilai pasar bioplastik mencapai US$20,2 miliar pada 2024 dan diproyeksikan meningkat lima kali lipat pada 2034. Di kawasan ASEAN, lanjutnya, terdapat lebih dari 80 investasi senilai US$1,59 miliar, mayoritas menyasar perusahaan tahap awal.
"Meski peluang ini besar, keberhasilan investasi tetap memerlukan dukungan kebijakan, regulasi, dan insentif yang tepat. Model pembiayaan seperti EPR, plastic credit, blended finance, dan impact investment menjadi instrumen penting untuk mengurangi risiko dan memperluas partisipasi investor," ujarnya.
Menurut Teni, kajian Plastic Circularity Investment Initiative (PCII) menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan investasi tahunan sekitar Rp308 triliun untuk memperkuat ekonomi sirkular, termasuk Rp18,6 triliun khusus sektor plastik.
"Data tersebut memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia memiliki potensi pasar menarik jika ekosistem regulasi dan insentif dipersiapkan dengan baik," ungkapnya.

