Pertamina SAF, Inovasi Hijau yang Libatkan Publik demi Ekonomi Sirkular
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Pertamina (Persero) berhasil mengembangkan bahan bakar ramah lingkungan untuk penerbangan atau sustainable aviation fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah. Inovasi ini memberi dampak ganda, yakni menggerakkan ekonomi sirkular di masyarakat sekaligus menekan emisi karbon industri penerbangan.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan, kehadiran Pertamina SAF bukan sekadar inovasi energi bersih, tetapi strategi melibatkan publik dalam rantai pasok bahan baku.
Baca Juga
Jakarta-Bali Jadi Saksi Sejarah, Pelita Air Terbang Pakai SAF Pertamina Berbahan Jelantah
“Ekosistem Pertamina SAF akan mendorong peningkatan ekonomi sirkuler di masyarakat, karena mereka dapat terlibat sebagai pemasok untuk bahan baku used cooking oil (USO) atau minyak jelantahnya,” ujar Fadjar, di Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Pertamina memperkenalkan inisiatif UCollect, program yang mengajak masyarakat mengumpulkan minyak jelantah rumah tangga untuk diolah menjadi SAF. Minyak jelantah tersebut dapat ditukarkan di titik pengumpulan resmi, seperti UCollect Box yang telah disediakan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina dan fasilitas kesehatan milik PT Pertamina Bina Medika IHC.
Saat ini, terdapat 35 titik UCollect Box yang tersebar di kota-kota besar, termasuk Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bandung, Semarang, Surabaya, Gresik, Bali, hingga Palembang. Lokasi lengkap dapat diakses melalui aplikasi MyPertamina atau tautan https://mypertamina.id/ubah-jelantah-jadi-rupiah.
Selain rumah tangga, Pertamina juga membangun kemitraan kolektif dengan sektor komersial, seperti hotel, restoran, dan kafe (Horeka), serta industri lain yang menjadi sumber signifikan minyak jelantah.
SAF tekan emisi 84%
Pertamina menegaskan bahwa pengembangan SAF akan berkontribusi besar pada target transisi energi nasional. Fadjar menjelaskan, produk SAF mampu menekan emisi karbon hingga 84% dibandingkan bahan bakar avtur berbasis fosil.
Baca Juga
“Ke depan, kapasitas produksi Pertamina SAF ini akan terus ditingkatkan, sehingga ekosistem SAF terus berkembang serta target pengurangan emisi bisa diakselerasi,” kata Fadjar.
Langkah Pertamina ini juga sejalan dengan peta jalan transisi energi menuju net zero emission 2060 yang dicanangkan pemerintah. SAF diharapkan menjadi salah satu pilar utama pengurangan emisi di sektor transportasi udara, mengingat aviasi merupakan salah satu penyumbang terbesar emisi global.
Dengan mengombinasikan inovasi energi bersih, partisipasi publik, serta dukungan sektor swasta, Pertamina optimistis SAF dapat berkembang menjadi solusi jangka panjang bagi industri penerbangan Indonesia sekaligus mendorong terciptanya ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

