Inflasi Harga Pangan Tembus 6,44% Secara Tahunan, Salah Satunya Akibat Percepatan MBG
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah terus mencermati perkembangan inflasi di Tanah Air. Inflasi sebesar 2,65% secara tahunan, masih tercatat masih dalam rentang target inflasi sebesar 2,5% plus minus 1%.
Meski demikian, perhatian pemerintah kini tertuju pada inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food yang tembus di angka 6,44%. Salah satu penyebab inflasi harga bergejolak tersebut disumbang percepatan program makan bergizi gratis (MBG).
Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan memang terdapat beberapa daerah, misalnya di Papua, yang mengalami kenaikan harga di komoditas tertentu. Penyebab inflasi harga bergejolak sebesar 6% secara tahunan karena percepatan program MBG.
“Itu juga memang terakhir ini kan diakselerasi percepatan makan bergizi gratis itu luar biasa, sehingga telur, ayam, itu ada kenaikan kira-kira 6% — 7%, karena percepatan (MBG),” kata Zulhas, sapaannya, saat Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Baca Juga
Menko Zulhas Targetkan 82,9 Juta Penerima MBG Terealisasi Maret 2026
Zulhas mengatakan perlunya percepatan swasembada pangan. Terutama untuk komoditas seperti telur, daging ayam, ikan, dan sebagainya.
“Kita memang perlu waktu untuk membangun (swasembada pangan) sedangkan makan bergizi ini kan percepatannya di akhir tahun luar biasa, sehingga itu memengaruhi,” ujar dia.
Di lokasi yang sama, Deputi I Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Ferry Irawan, mengatakan pemerintah akan berupaya untuk menjaga inflasi harga pangan sesuai target. Langkah ini sesuai dengan arahan dari high level meeting yang digelar Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP).
“Nanti dengan serangkaian kebijakan yang kita lakukan untuk memudahkan ini (inflasi) terjaga di level di bawah 5%” ujar Ferry.
Dalam paparannya awal Oktober 2025, Deputi Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) M. Habibullah menjelaskan bahwa inflasi harga bergejolak pada September 2025, memiliki andil 1,03% dari inflasi tahunan. Inflasi harga bergejolak menyentuh level tertinggi sejak Juni 2024.
Komoditas pendorong inflasi harga bergejolak tersebut di antaranya, cabai merah, bawang merah, beras, dan daging ayam.
Di sisi lainnya, komponen inflasi inti tercatat sebesar 2,19% secara tahunan dengan andil sebesar 1,41%. Penyumbang inflasi inti yaitu emas dan perhiasan, minyak goreng, hingga kopi bubuk.
Sementara itu, komponen inflasi harga diatur pemerintah atau administered price sebesar 1,1% dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,21%. Komoditas dominan yang dominan yaitu tarif air minum PAM di 13 wilayah, sigaret kretek mesin (SKM), dan bahan bakar rumah tangga.
Baca Juga
Jauh sebelum itu, pada awal September 2025, Perwakilan Aliansi Ekonom Indonesia, Vid Adrison menyebut bahwa program MBG sangat berpotensi menekan aktivitas ekonomi lain. Sebab, banyak anggaran yang terserap ke program MBG.
"Itu bisa mengakibatkan pertumbuhan ekonomi, suboptimal dan juga punya implikasi (negatif) terhadap penerimaan negara," kata Vid, di kantor Kemenko bidang Perekonomian, Senin (29/9/2025).
Selain itu, Vid menilai program MBG sangat besar membuat kenaikan harga pangan apabila permintaan dari dapur MBG sangat besar. Kenaikan harga ini akan dirasakan oleh setiap pihak, termasuk bagi orang yang miskin.
“Bagi orang yang miskin, ketika harga makanan naik, itu akan punya dampak yang sangat-sangat besar bagi biaya kehidupan mereka, sehingga bisa saja pemerintah harus mengeluarkan uang yang lebih besar untuk memberikan transfer, untuk bantuan," ujar dia.

