Dolar AS Kembali Perkasa di Pasar Asia, Rupiah Melemah Tipis
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Nilai tukar rupiah melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (21/10/2025) pagi seiring penguatan indeks dolar AS atau DXY. Rupiah turun 4 poin atau 0,02% ke posisi Rp 16.579 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring menguatnya indeks dolar AS (DXY) yang menembus level 98,5. Penguatan dolar AS menekan hampir seluruh mata uang di kawasan Asia, menandakan meningkatnya minat investor terhadap aset berdenominasi dolar.
Dolar AS tercatat menguat 0,25% terhadap yen Jepang dan 0,29% terhadap won Korea Selatan. Mata uang Paman Sam juga naik tipis 0,01% terhadap peso Filipina dan 0,02% terhadap dolar Singapura. Hanya baht Thailand yang sedikit menguat terhadap dolar AS sebesar 0,02%. Sementara itu, terhadap dua mata uang utama dunia, euro dan poundsterling, dolar AS juga mencatatkan penguatan masing-masing sebesar 0,06% dan 0,09%.
Baca Juga
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, penguatan dolar AS kali ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari pasar saham AS dan ketidakpastian politik di Eropa serta Asia. “DXY naik tipis ke 98,5 karena pelemahan luas mata uang G10 mengimbangi dampak dari berlarutnya penutupan pemerintahan AS, ketidakpastian perdagangan, dan prospek penurunan suku bunga oleh The Fed,” kata Andry di Jakarta, Selasa.
Pada perdagangan Senin (20/10/2025) waktu setempat, indeks Dow Jones naik 1,12% ke 46.706,58, sementara S&P 500 naik 1,07% ke 6.735,13. Kenaikan di bursa saham utama AS menunjukkan kepercayaan investor terhadap potensi pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam.
Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat turun 2,88 basis poin (bps) menjadi 3,98%, menandakan permintaan tinggi terhadap surat utang berisiko rendah.
Tekanan dari Eropa dan Asia Timur
Andry menambahkan, pelemahan euro terhadap dolar turut disebabkan oleh penurunan peringkat kredit Prancis oleh lembaga pemeringkat S&P akibat ketidakstabilan politik di negara tersebut. “Yen juga tertekan karena perdana menteri baru Jepang berorientasi pada kebijakan fiskal longgar,” ujarnya.
Situasi ini memperkuat posisi dolar AS sebagai mata uang safe haven di tengah ketidakpastian global.
Meskipun rupiah tertekan, pasar keuangan domestik menunjukkan ketahanan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan 2,19% ke level 8.088,98 pada perdagangan Senin (20/10/2025). Arus masuk dana asing tercatat mencapai Rp 529,8 miliar, menandakan kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Baca Juga
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.593 per Dolar AS, DXY Turun Tiga Hari Beruntun
Imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia tenor 10 tahun turun tipis 0,3 bps ke 5,97%, mencerminkan optimisme terhadap prospek fiskal dan moneter dalam negeri.
“Pandangan kami USD/IDR hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.520 hingga Rp 16.585 per dolar AS," ujar Andry.

