Prasasti: Danantara Butuh Waktu untuk Percepat Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Prasasti Center for Policy Studies, memberikan tanggapannya terhadap kinerja Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), yang sudah diluncurkan Presiden Prabowo Subianto sejak Februari 2025.
Policy & Program Director Prasasti, Piter Abdullah, memandang butuh waktu bagi Danantara untuk berkontribusi maksimal terhadap upaya percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia membeberkan, sejumlah pimpinan Danantara sempat menyatakan permasalahan yang ada di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lebih kompleks dari yang dibayangkan.
Namun ia tidak memperinci permasalahan yang dimaksud.
"Menurut saya kita perlu memberi waktu kepada Danantara untuk berperan dalam mempercepat pemulihan ekonomi kita," kata Piter saat menyampaikan pemaparan dalam peluncuran Prasasti Insights: Kajian 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Piter menekankan, Danantara memiliki peluang untuk menjadi game changer dalam upaya Prabowo mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%. Di satu sisi, ia pun mengingatkan kembali, bahwa target pertumbuhan ekonomi 8% akan sulit dicapai pada tahun pertama.
Anggota Badan Supervisi Bank Indonesia itu meyakini, saat ini lebih baik bagi Danantara untuk memaksimalklan upaya pembenahan dan transformasi pada ekosistem BUMN.
"Saya pikir akan sangat bijaksana jika kita memberikan waktu untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan di mana Danantara dapat memainkan peran yang lebih besar, yaitu dalam pengelolaan UMKM dan terutama dalam bentuk investasi," ungkap Piter.
Pemahaman Publik soal Danantara
Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, memandang saat ini dibutuhkan pemahaman publik yang lebih komperhensif terkait tugas dari Danantara itu sendiri. Ia mencontohkan, publik lebih menyoroti bagaimana Danantara sebagai sovereign wealth-fund (SWF) saat ini tercatat mengelola aset hingga menyentuh angka US$1 triliun.
"Pemahaman publik ini adalah lembaga yang memiliki banyak uang, seharusnya bisa bergerak cepat. Mungkin dana kekayaan negara ini harus dikelola terlebih dahulu, bahwa nilainya hanya aset-aset yang ada di BUMN," ujar Gundy.
Selain itu, Prasasti juga tidak sependapat apabila kinerja Danantara dibandingkan dengan SWF dari negara lain, misalnya Temasek asal Singapura.
"Mungkin kita harus membandingkannya (Danantara) saat ini dengan Temasek di awal ketika mulai dibangun. Mereka juga menghadapi masalah serupa. Ada dua hal penting, investasi dan mengelola dana tersebut," tutur dia.
Gundy meyakini pekerjaan rumah (PR) yang menanti Danantara, hampir mustahil diselesaikan dalam waktu singkat. Salah satunya, adalah rencana Danantara yang ingin memangkas jumlah BUMN dari yang saat ini berjumlah 1.000 perusahaan menjadi hanya sekitar 200 perusahaan.
"Saya setuju dengan Pak Piter. Kita perlu berkomunikasi, kita perlu percaya, mungkin kita juga bisa berdiskusi dengan percaya. Kita juga perlu memberikan pemahaman yang lebih lengkap kepada publik," terang dia.
Sebelumnya CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, membeberkan proyeksi lembaga sovereign wealth-fund tersebut setidaknya dalam lima tahun ke depan. Ia menyebut Danantara telah melakukan transformasi dengan memangkas jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari yang sebelumnya 1.000 lebih menjadi sekitar 200 perusahaan.
Rosan mengatakan, saat ini Danantara mengelola total aset senilai US$1 triliun dengan kontribusi dividen sekitar US$7 miliar per tahun. Dengan sejumlah transformasi yang dilakukan oleh Danantara, ia membidik peningkatan kontribusi dividen menjadi US$10 miliar per tahun.
"Tujuan utama kami bukan hanya imbal hasil tinggi, tetapi juga dampak sosial ekonomi yang nyata," kata Rosan saat menjadi pembicara kunci dalam agenda Forbes CEO Global Conference ke-23 di The St. Regis, Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Rosan menjelaskan dengan target adanya dividen mencapai US$10 miliar per tahun, diproyeksikan Danantara akan memiliki modal investasi hingga US$40 miliar dalam lima tahun ke depan.
"Dengan proyeksi itu, Danantara dapat berinvestasi hingga US$40 miliar secara ekuitas, atau US$250 miliar jika dilipatgandakan dengan leverage finansial," tuturnya.

