Sempat Perkasa, Rupiah Longsor Usai Sri Mulyani Digantikan Purbaya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah sempat menguat pada sesi penutupan perdagangan. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat posisi rupiah di Rp 16.348 per US$. Rupiah terapresiasi 90 poin atau 0,54% dibandingkan penutupan Kamis (4/9/2025) di Rp 16.438 per US$.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah bahkan sempat menguat hingga Rp 16.310 per US$, menguat 123 poin atau 0,75% pada pukul 14.59 WIB.
Namun, berdasarkan data real time Google, rupiah justru anjlok pada pukul 17.30 WIB. Google mencatat posisi rupiah melemah 0,96% ke Rp 16.556 per US$.
Baca Juga
IHSG Berbalik Anjlok 1,28% Usai Menkeu Sri Mulyani Terkena Reshuffle Kabinet
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pergantian Sri Mulyani Indrawati oleh Purbaya Yudhi Sadewa di kursi Menteri Keuangan berdampak negatif jangka pendek, meski diyakini bisa dilalui.
“Reshuffle kabinet ini memberi sentimen negatif. Namun ke depan, pelemahan rupiah diperkirakan tidak terlalu tajam,” ujar Ibrahim, Senin (8/9/2025).
Ibrahim memperkirakan rupiah akan terkoreksi dalam perdagangan Selasa (9/9/2025), berada di rentang Rp 16.300–Rp 16.350 per US$.
Baca Juga
IHSG Berbalik Anjlok 1,28% Usai Menkeu Sri Mulyani Terkena Reshuffle Kabinet
Ia menilai pergantian Menteri Keuangan patut diwaspadai pasar, mengingat potensi munculnya kebijakan baru. “Pemerintah kini fokus pada program rumah subsidi, koperasi merah putih, dan makan bergizi gratis yang butuh dana besar,” kata dia.
Menurutnya, lelang obligasi tetap menjadi opsi pendanaan utama. Namun jika tak terserap optimal, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh perbankan domestik dan intervensi BI bisa menjadi pilihan. “Ke depan mekanismenya masih dinamis, kita lihat bagaimana langkah pemerintah,” pungkas Ibrahim.

