Rupiah Melemah 0,47% di Akhir Perdagangan, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah melemah pada akhir perdagangan Rabu (27/8/2025). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), rupiah ditutup di Rp 16.355 per US$ atau turun 78 poin, setara kontraksi 0,47% dibandingkan penutupan Selasa (26/8/2025).
Data Bloomberg juga mencatat rupiah berada di level Rp 16.368 per US$, melemah 70 poin atau 0,43%. Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS (DXY) yang reli tiga hari terakhir. Mengacu Yahoo! Finance, DXY menguat ke posisi 98,58 pada Rabu (27/8/2025).
Baca Juga
BI Berkomitmen Perkuatkan Konektivitas Pembayaran Antarnegara
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut penguatan DXY dipicu faktor domestik Amerika Serikat. Salah satunya keputusan Presiden AS Donald Trump yang memecat Gubernur The Fed Lisa Cook. Situasi ini memunculkan kekhawatiran terkait independensi The Fed.
Selain itu, pasar menyoroti kabar rencana AS mengakhiri perang Ukraina–Rusia. Sentimen tambahan muncul dari kebijakan Washington yang akan mengenakan tarif baru 25% terhadap ekspor India per pukul 12.01 EDT, sehingga total tarif menjadi 50%. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai rupiah menghadapi tekanan tambahan dari rencana demonstrasi buruh pada Kamis (28/8/2025). Aksi yang diperkirakan diikuti 10.000 buruh menuntut kenaikan upah minimum nasional sebesar 8,5%–10,5% pada 2026.
Baca Juga
Selain itu, tuntutan pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2021 juga menjadi sorotan, termasuk desakan reformasi pajak dengan kenaikan ambang pendapatan tidak kena pajak (PTKP) dari Rp 4,5 juta per bulan menjadi Rp 7,5 juta per bulan.
Melihat kondisi global dan domestik tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis (28/8/2025) berfluktuasi dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 16.360 hingga Rp 16.420 per US$.

