Pengusaha Masih Malu-Malu Lirik Patriot Bond Danantara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) baru saja mengeluarkan wacana untuk menerbitkan surat utang bernama Patriot Bond. Obligasi ini dirancang untuk membuka ruang bagi pengusaha nasional untuk menyalurkan pengabdian kepada bangsa dengan berkontribusi pada agenda pembangunan jangka panjang.
Berdasarkan informasi yang beredar, obligasi ini ditargetkan mampu menghimpun dana sebesar Rp50 triliun untuk membiayai proyek pengelolaan sampah menjadi energi. Surat utang tersebut ditawarkan dengan imbal hasil sebesar 2% dan akan dieksekusi pada September 2025.
Merespons soal rencana penerbitan obligasi Patriot Bond oleh Danantara, Direktur Utama PT. Djarum, Victor Hartono tidak menampik ketertarikannya untuk membeli obligasi tersebut. Meski demikian ia enggan berkomentar lebih jauh lantaran belum mengetahui secara rinci penerbitan obligasi oleh Danantara tadi.
"Ya, kami interest. Lebih detailnya silakan tanya Danantara," jawabnya singkat saat ditemui Investortrust di Universitas Paramadina Kampus Cipayung, Jakarta, Rabu (27/8/2025).
Baca Juga
Pada kesempatan yang sama, Investortrust sempat mengajukan pertanyaan serupa kepada dua pengusaha nasional. Mereka adalah Managing Director Sinar Mas 2000-2021 sekaligus Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan 2021-2023, Gandi Sulistiyanto, serta CEO PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, Patrick Walujo.
Berbeda dengan Victor Hartono, baik Gandi Sulistiyanto maupun Patrick Walujo enggan berkomentar soal potensi korporasinya mengoleksi obligasi Patriot Bond. Secara umum, Gandi dan Patrick mengaku belum mengetahui secara rinci skema serta struktur imbal hasil yang ditawarkan oleh Patriot Bond.
Sebelumnya Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Selasa (26/8/2025), menegaskan bahwa penerbitan Patriot Bond menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung kemandirian pembiayaan nasional. “Danantara Indonesia berkomitmen menjalankan mandat sebagai pengelola investasi negara dengan penuh kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik. Setiap inisiatif pembiayaan diarahkan untuk mendukung transformasi ekonomi jangka panjang serta memperkuat peran dunia usaha dalam pembangunan,” ujarnya.
Patriot Bond merupakan instrumen pembiayaan yang lazim digunakan di berbagai negara, seperti Jepang dan Amerika Serikat, untuk menyediakan sumber pendanaan jangka menengah hingga panjang yang stabil. Melalui instrumen ini, negara memperoleh dana pembangunan berkelanjutan, sementara pelaku usaha memiliki akses pada instrumen investasi yang aman dan bermanfaat bagi perekonomian nasional.
Dana yang terkumpul akan difokuskan untuk mengatasi tantangan struktural perekonomian Indonesia, mulai dari rendahnya proporsi tenaga kerja lulusan STEM, ancaman penuaan penduduk menuju 2045, hingga persoalan krisis sampah nasional yang berpotensi mencapai 82 juta ton per tahun.

