Bitcoin Jadi Jalan Baru Inklusi Keuangan di Kibera, Afrika
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah padatnya pemukiman Kibera, salah satu kawasan kumuh terbesar di Kenya, Afrika, muncul sebuah eksperimen tak biasa yang memberi harapan baru bagi inklusi keuangan. Bukan bank, bukan koperasi, melainkan Bitcoin (BTC) yang kini mulai digunakan sebagai alat transaksi harian.
Melansir CryptoNewsFlash, Senin (25/8/2025), inisiatif ini digerakan oleh AfriBit Africa, startup asal Nairobi yang sejak 2022 berupaya menghadirkan akses finansial ke masyarakat yang selama ini terpinggirkan. Pendiri AfriBit Ronnie Mdawida menyatakan, kunci keberhasilan adopsi Bitcoin bukan hanya pada individu, melainkan juga pada para pedagang.
Menurutnya, Bitcoin bukanlah ide asing yang dipaksakan dari luar, melainkan sistem yang relevan dengan kehidupan sehari-hari warga Kibera. “Untuk pedagang bisa bertahan, harus ada orang-orang yang mau menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran,” ujarnya.
Baca Juga
Anak Presiden AS Donald Trump Prediksi Bitcoin Bakal Ke US$ 175.000 di Akhir Tahun Ini
Salah satunya dirasakan oleh Ruth, seorang pedagang kelontong. “Sebagai pedagang, saya mulai menerima Bitcoin. Banyak orang di Kibara kini menggunakannya untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan ini bekerja bagi kami,” katanya.
Bagi warga Kibera, daya tarik Bitcoin terletak pada kemudahannya. Hanya dengan ponsel pintar dan dompet digital, siapapun bisa bertransaksi tanpa harus punya rekening bank atau kartu identitas resmi.
Selama ini, layanan populer seperti M-PESA justru kian mahal karena biaya transfer yang meningkat seiring nominal transaksi. Sebaliknya, transaksi Bitcoin lewat jaringan Lightning Network nyaris tanpa biaya. Keamananpun lebih terjaga, karena menyimpan uang di dompet digital mengurangi risiko menjadi korban pencopetan.
Sejumlah pekerja harian bahkan mengaku menyimpan 70%-80% tabungannya dalam bentuk Bitcoin, berharap nilainya akan meningkat di masa depan.
Baca Juga
Harga Bitcoin Cs Terkoreksi Jelang Pidato Powell di Simposium Jackson Hole
Meski menjanjikan, adopsi Bitcoin di Kibera bukannya tanpa hambatan. Fluktuasi harga yang tajam bisa menjadi risiko besar bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, kendala teknis seperti akses internet yang tidak stabil, pemadaman listrik, serta harga smartphone yang relatif mahal membatasi jangkauan program ini.
Dari sisi regulasi, pemerintah Kenya tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang Virtual Asset Service Providers (VASP) 2025. Aturan ini fokus pada pencegahan pencucian uang dan pendanaan terorisme, sejalan dengan upaya Kenya keluar dari daftar abu-abu Financial Action Task Force (FATF).
Namun, sejumlah analis mengingatkan agar regulasi tidak justru menutup ruang inovasi. Analis blockchain asal Nairobi Rosellyn Wanjiru menilai pemerintah perlu berhati-hati. “Jika pajak dan lapisan kepatuhan ditempatkan di atas pertumbuhan, Kenya bisa jadi malah menjadi tempat terakhir yang dipilih penyedia layanan aset virtual untuk beroperasi,” katanya.
Eksperimen Bitcoin di Kibera masih dalam tahap awal, namun menunjukkan potensi besar bagi inklusi keuangan di kawasan yang lama terpinggirkan sistem perbankan. Pertanyaannya, apakah pemerintah Kenya akan mendorong inovasi ini atau justru menekannya lewat regulasi yang terlalu ketat.

