Kesepakatan Tarif AS-RI Beri Peluang Investasi Asing dan Peningkatan Kredit pada 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai, prospek investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) Indonesia berpotensi membaik seusai kesepakatan tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia. Namun, ia memperkirakan dampak signifikan baru akan terasa di 2026.
“Saat ini FDI masih lemah. Namun, ketika aturan tarif baru disahkan, strategi korporasi global bisa berjalan lagi dan FDI akan kembali. Indonesia bisa menarik FDI pada putaran berikutnya, terutama di sektor manufaktur teknologi menengah (mid-tech manufacturing),” ujarnya, dalam media briefing HSBC: Indonesia Economy Outlook H2-2025, secara virtual, Jumat (8/8/2025).
Baca Juga
Presiden: PDB Tumbuh Tinggi Bukti Transformasi Ekonomi Sudah Benar
Menurut Pranjul, sektor tersebut menjadi fokus karena rantai pasok global sedang mengalami pergeseran, dan sejumlah negara ASEAN telah membuktikan diri mampu memanfaatkan momentum serupa pada periode sebelumnya.
“Area, seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan furnitur, di mana Indonesia sudah menjadi eksportir, hanya perlu ditingkatkan skalanya. Saat ini ekspor garmen Indonesia ke dunia hanya 25% dari Vietnam. Potensi untuk memperbesar ini sangat besar,” katanya.
Pranjul menyatakan, meski potensi investasi besar, realisasi masuknya modal kemungkinan tidak akan langsung mendorong pertumbuhan kredit di paruh kedua 2025.
“Cerita ini lebih untuk 2026 ketimbang paruh kedua 2025 karena ketidakpastian tarif masih tinggi. Namun, pelonggaran suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) dalam beberapa kuartal ke depan diharapkan mulai mendorong permintaan kredit, mungkin mulai terasa di kuartal terakhir 2025, dan lebih kuat di 2026,” ucap dia.
Baca Juga
Setali tiga uang, Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research Herald van der Linde mengatakan, pemulihan kredit akan menjadi sentimen positif bagi pasar saham di Indonesia ke depannya.
“Itu akan sangat baik untuk kinerja pasar, karena sektor perbankan memiliki porsi besar di indeks. Jika pertumbuhan pinjaman membaik, dampaknya bisa positif untuk ekuitas, ujar Herald.

