Tanpa Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%, Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom senior Indonesia, Chatib Basri, mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di angka 5% tak cukup untuk memaksimalkan potensi bonus demografi. Dengan jumlah penduduk usia produktif yang tinggi, ekonomi harus tumbuh jauh lebih cepat.
“Pertumbuhan 5% itu tidak cukup dan harus di atas 6%, kalau bisa 7% lebih bagus. Tapi (idelanya) pertumbuhan harus di atas 6% untuk kemudian bisa akselerasi," tegas Chatib usai acara forum Indonesia–Japan Executive Dialogue 2025 yang digelar di Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (6/8/2025).
Baca Juga
Chatib Basri Ingatkan Pertumbuhan Ekonomi Harus Ditopang Investasi dan Deregulasi
Tanpa lonjakan pertumbuhan tersebut, Chatib menyebutkan, Indonesia berisiko mengalami jebakan struktural. Dampak inilah yang dapat membuat bonus demografi terbuang percuma. “Kalau nggak, kita bisa tua sebelum kaya,” tegas Anggota Dewan Ekonomi Nasional itu.
Diketahui, bonus demografi yang dimiliki Indonesia diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2030-an. Dalam periode itu, negara harus bisa menyediakan lapangan kerja berkualitas untuk menyerap tenaga kerja usia produktif.
Baca Juga
Indef Soroti Pertumbuhan Ekonomi karena Data Lapangan Lesu, Ini Indikatornya
Chatib pun menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam memperbaiki sistem pendidikan, memberikan akses pelatihan keterampilan, dan menciptakan ekosistem kerja yang inklusif serta inovatif.
Tanpa langkah konkret dan terarah, bonus demografi justru bisa menambah beban sosial ekonomi dan meningkatkan risiko ketimpangan.

