Jajaki Pasar Baru, Indonesia Gandeng Global South Hadapi Geopolitik yang Tak Pasti
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Merespons ketidakpastian global dan dinamika geopolitik yang terus berkembang, Indonesia membuka peluang kerja sama lebih luas dengan negara-negara Global South (negara selatan).
Juru Bicara Kepresidenan, Philips J. Vermonte menjelaskan Global South merujuk pada negara-negara berkembang di kawasan, seperti Asia Selatan dan Afrika. Global South selama ini bukan merupakan mitra utama Indonesia dalam kerja sama ekonomi. Namun, situasi dunia yang semakin kompleks mendorong pemerintah untuk memperluas jangkauan ke pasar-pasar non-tradisional.
Baca Juga
RI Raup Surplus Dagang US$ 9,92 Miliar dari AS, Mendag: Belum Kena Tarif Resiprokal
"Global South itu kan developing world, jadi di tengah ucertainty seperti sekarang, tentu saja Indonesia harus mencari alternatif, membuka option dan lain-lain yang mungkin selama ini kita tidak melihat," kata dia saat ditemui Investortrust.id dalam diskusi di Jakarta Future Forum 2025, Selasa (5/8/2025) malam.
Philips menekankan bahwa kepentingan utama Indonesia tetap menjaga momentum pembangunan nasional. Untuk itu, Indonesia terus mendorong multilateralisme, keterbukaan perdagangan, serta menjalin kerja sama berbasis kepentingan bersama di antara negara-negara Global South.
"Kita mencoba terus-menerus men-diver kecenderungan atau geopolitical tension untuk menyatakan bahwa kita tetap mendorong multateralism trade and openness supaya kita ke dalam bisa tetap menjalankan pembangunan, dan itu share interest di negara-negara Global South. Makanya penting untuk membangun coalition of narrative dari Global South ini," ucapnya.
Baca Juga
Bappenas Ungkap Kekompakan Menteri Prabowo Jadi Resep Ekonomi RI Tumbuh 5,12%
Selain itu, Philips menyinggung peran ASEAN dalam menjaga stabilitas kawasan. Meski ada keterlibatan negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dan China dalam isu-isu kawasan, ASEAN tetap harus menjadi aktor utama dalam menentukan arah perdamaian regional.
"Kita mendukung langkah apa yang diambil oleh PM Anwar, bahwa ada yang terlibat dari Amerika dan dari China, seperti yang saya sampaikan tadi, buat kita buat ASEAN, peace itu bisa dicapai oleh siapa pun. Jadi external partner boleh ikut tapi driver seat-nya tetap ASEAN.

