RI Raup Surplus Dagang US$ 9,92 Miliar dari AS, Mendag: Belum Kena Tarif Resiprokal
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan bahwa Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 19,48 miliar sepanjang semester I-2025. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) yang sebesar US$ 15,58 miliar.
“Surplus perdagangan kita semester I tahun ini sebesar US$ 19,48 miliar, meningkat dibandingkan semester I-2024 yang sebesar US$ 15,58 miliar,” kata Mendag Budi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (4/8/2025).
Surplus tertinggi, lanjut Budi, berasal dari perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), yakni mencapai US$ 9,92 miliar. Disusul India dengan surplus sebesar US$ 6,64 miliar, Filipina sebesar US$ 4,3 miliar, Malaysia US$ 3,07 miliar, dan Vietnam US$ 2,21 miliar.
“Kalau kita lihat, perdagangan atau surplus tertinggi kita berasal dari Amerika, yaitu sebesar US$ 9,92 miliar sampai semester I ini,” ujar Mendag Budi.
Baca Juga
Negosiasi Berlanjut, Mendag Yakin Tarif 19% Bisa Turun untuk Produk yang Tak Dimiliki AS
Ia menekankan bahwa capaian surplus dari AS ini terjadi sebelum kebijakan tarif impor atau tarif resiprokal diterapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap produk asal Indonesia. Pemberlakuan tarif itu dijadwalkan mulai 7 Agustus 2025.
“Ini pertanda bahwa produk-produk Indonesia masih punya daya saing, meskipun ini belum diberlakukan tarif resiprokal. Jadi nanti kita akan mendorong terus, dan tentu akan berupaya agar setelah pemberlakuan tarif resiprokal, ekspor kita tetap terus meningkat,” tegasnya.
Mendag menilai capaian ini mencerminkan kekuatan dan daya saing produk ekspor Indonesia, terutama di pasar strategis seperti Amerika Serikat, bahkan sebelum hambatan tarif diterapkan.

