DEN Petakan Sektor Ekspor untuk Negosiasi Tarif Lanjutan dengan AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Direktur Eksekutif Bidang Strategi dan Kebijakan Ekonomi Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Gaffari Ramadhan, menyatakan bahwa tarif sejumlah produk ekspor Indonesia akan kembali dinegosiasikan dengan Amerika Serikat (AS). Hal ini menyusul pernyataan bersama (joint statement) yang dirilis Gedung Putih, di mana disebutkan soal potensi preferensi tarif bagi produk-produk yang tidak diproduksi secara alami di AS.
“Tapi apakah mungkin nanti kita bisa buka diskusi juga, apakah produk-produk yang sifatnya padat karya ini juga mendapatkan preferensial itu,” ujar Gaffari, usai menghadiri diskusi di Menara Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Jakarta, Senin (4/8/2025).
Menurutnya, produk padat karya perlu menjadi prioritas karena sektor ini berperan penting dalam penciptaan lapangan kerja di Indonesia. Ia menambahkan bahwa jika negosiasi tidak berhenti pada penurunan tarif 19%, maka ada ruang untuk menyampaikan usulan tambahan sektor ekspor potensial.
Dalam diskusi tersebut, Gaffari menyampaikan sejumlah produk ekspor unggulan Indonesia ke AS yang layak dimintakan penurunan tarif. Beberapa di antaranya berasal dari sektor pertanian, seperti crude palm oil, cokelat dan turunannya, kopi, karet, teh, serta kapulaga.
Selain sektor pertanian, pemerintah juga bisa memperjuangkan penyesuaian tarif untuk produk ekspor berorientasi manufaktur. Produk-produk tersebut antara lain tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furnitur, serta produk perikanan.
Baca Juga
RI Raup Surplus Dagang US$ 9,92 Miliar dari AS, Mendag: Belum Kena Tarif Resiprokal
Gaffari menyebutkan bahwa Indonesia saat ini memiliki tarif ekspor yang lebih rendah sekitar 1 poin persentase dibandingkan Vietnam. Kondisi ini memberikan keuntungan kompetitif bagi produk Indonesia dari sisi biaya.
“Misalnya merek global dari garmen, alas kaki, bisa masuk ke Indonesia dengan memanfaatkan peluang sedikit lebih kompetitif dari sisi tarif,” jelasnya, seraya menekankan pentingnya perbaikan regulasi untuk menarik relokasi industri ke Indonesia.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengonfirmasi bahwa pemerintah sedang menyiapkan daftar komoditas ekspor yang akan dimintakan pengecualian tarif.
“Sedang kita kirim suratnya ke sana, kita sedang siapkan list barangnya. Nanti kalau oke benar kita sampaikan, tapi kurang lebih barangnya ya yang itu saja,” ungkap Susiwijono.

