Indonesia Masih Nikmati Surplus di Juni 2025, Tapi Turun 4,65% Secara Bulanan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan surplus pada neraca perdagangan Juni 2025. Surplus pada bulan Juni mencapai US$ 19,48 miliar.
“Dengan capaian ini neraca perdagangan Indonesia selama 62 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini, di kantor pusat BPS, Jakarta, Jumat (1/8/2025).
Meski mengalami surplus, angka surplus pada Juni 2025 mengalami penurunan. BPS menunjukkan penurunan surplus Juni 2025 mencapai -4,65% dibandingkan Mei 2025 yang mencapai US$ 4,3 miliar.
Baca Juga
61 Bulan Surplus Perdagangan: Momentum Menyusun Ulang Strategi Ekonomi Nasional
Pudji mengatakan surplus pada Juni 2025 terjadi karena surplus komoditas non-migas sebesar US$ 5,22 miliar. Komoditas utama penyumbang utama surplus yaitu lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
“Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas tercatat defisit US$ -1,11 miliar dengan komoditas penyumbang defisit yaitu minyak mentah dan hasil minyak,” ujar dia.
Secara kumulatif, Januari-Juni 2025 atau neraca perdagangan semester I-2025, neraca perdagangan total mengalami surplus US$ 19,48 miliar. Surplus ini ditopang komoditas nonmigas yang sebesar US$ 28,31 miliar.
“Sementara, komoditas migas mengalami defisit US$ -8,83 miliar,” kata dia.
Meski defisit, nilai defisit kumulatif ini berkurang sebesar US$ 1,27 miliar jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan negaranya, tiga negara penyumbang surplus secara kumulatif yaitu Amerika Serikat sebesar US$ 8,57 miliar, India sebesar US$ 6,59 miliar, dan Filipina US$ 4,4 miliar.
Defisit kumulatif terdalam dialami akibat perdagangan Indonesia dengan China yang sebesar US$ -9,73 miliar, Singapura yang sebesar US$ -3,09, dan Australia yang sebesar US$ -2,66 miliar.

