Meski Dapat Tarif 19% dari AS, AMRO Sarankan Indonesia Diversifikasi Pasar Ekspor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom The ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) Dong He menyebut kesepakatan Amerika Serikat (AS) dengan Indonesia mengenai tarif resiprokal tidak akan berdampak besar. Sebab, perekonomian Indonesia lebih digerakkan oleh permintaan domestik.
“Indonesia cenderung kurang rentan karena tidak terlalu terbuka terhadap perdagangan internasional. AS menyumbang sekitar 10% dari total ekspor,” kata He, saat konferensi pers yang digelar daring, Rabu (23/7/2025).
Menurut He, pasar ekspor Indonesia yang besar yaitu ke China. Negeri Tirai Bambu itu menyumbang 23,6% pada 2024.
“Dari sudut pandang tersebut, saya rasa, Indonesia cukup terlindungi dari putaran tarif terbaru,” jelas dia.
Baca Juga
Trump: Indonesia Sepakati Transaksi Komersial dengan Perusahaan AS Senilai US$ 22,7 Miliar
He menyarankan agar Indonesia tetap membuka pasar ekspor yang lebih beragam. Langkah ini sebagai diversifikasi terhadap perdagangan Indonesia.
He mengatakan tim AMRO telah memasukkan tarif 19% untuk memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tetapi, tarif 19% itu masih tergolong tinggi daripada tarif awal sebesar 10% yang dihadapi Indonesia.
“Saya kira, revisi ke bawah dalam proyeksi pertumbuhan kami lebih mencerminkan dampak dari permintaan domestik yang lebih lemah,” kata dia.
Dalam proyeksi yang dilakukan AMRO, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi berada di level 4,8% pada 2025 dan 4,7% pada 2026. Proyeksi ini direvisi ke bawah dari sebelumnya yang berada di level 5% pada 2025 dan 5,1% pada 2026.
Satu-satunya negara ASEAN+3 yang mengalami revisi ke atas yaitu Vietnam. AMRO memprediksi pertumbuhan ekonomi Vietnam akan berada di level 7% pada 2025 dan 6,5% pada 2026.

