Permata Bank Prediksi Ekonomi RI Tumbuh di Bawah 5% di Sisa Tahun 2025 dan 2026, Baru Pulih di Tahun 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Permata Tbk (BNLI) atau Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara rata-rata akan berada di bawah 5% di sisa tahun 2025 dan 2026, sebelum mengalami pemulihan di tahun 2027.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan, penurunan pertumbuhan tersebut diakibatkan oleh perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok. Lebih lanjut, Josua menuturkan PIER turut memprediksi bahwa suku bunga acuan Amerika Serikat (Federal Reserve) akan terus mengalami penurunan hingga 3,5%, sementara suku bunga acuan Indonesia (BI rate) akan relatif stabil di kisaran 4,75% sampai 2027.
“Sejak tahun 2024 hingga sekarang, terdapat tiga risiko utama yang kita masih kita hadapi sekarang dan kemungkinan hingga tahun depan, yaitu perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia, kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap Indonesia, dan konflik Timur Tengah," ujar Josua dalam keterangan yang diterima, Jumat (18/7/2025).
Josua menjelaskan, walaupun Indonesia turut mengalami gejolak dari ketidakpastian situasi global, seperti pelemahan nilai kurs Rupiah dan penurunan nilai IHSG, secara umum, fundamental ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi semakin membaik dan resiliensi yang kuat.
"Namun, kita sebagai masyarakat tetap perlu mempersiapkan diri dengan payung investasi sebagai bentuk mitigasi risiko," ungkap Josua.
Ketidakstabilan geopolitik global yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir telah menciptakan tekanan ekonomi baru berupa kenaikan harga minyak mentah dan emas, serta volatilitas mata uang. Situasi yang kurang kondusif ini menyebabkan sebagian besar bank sentral utama di dunia akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk sementara waktu.
Meskipun demikian, dalam lanskap ekonomi yang dinamis, Bank Indonesia baru saja memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,25%. Hal ini menjadi momentum penting yang menunjukkan arah kebijakan yang akomodatif dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

