Pemerintah Optimistis, Pendapatan Negara Dekati Target APBN 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) optimistis dengan capaian pendapatan negara pada semester II-2025. Pasalnya pada sisa semester tahun ini saja, pendapatan negara diproyeksikan akan diperoleh sebesar Rp 1.663,7 triliun atau 55,4% terhadap total APBN 2025.
Dengan proyeksi ini, pendapatan negara di akhir tahun diprediksi bisa mencapai Rp 2.865,5 triliun atau 95,4% dari target APBN 2025. Kontribusi utamanya didapat dari penerimaan perpajakan dan PNBP.
Dalam kesimpulan laporan semester I-2025 dan prognosis semester II-2025, outlook penerimaan perpajakan diperkirakan 95,8% terhadap APBN 2025 yang dipengaruhi oleh proyeksi ekonomi nasional, fluktuasi harga komoditas utama, implementasi reformasi perpajakan, kebijakan perbaikan administratif, serta upaya pengawasan terhadap kepatuhan pajak.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menambahkan dalam kesimpulan tersebut penerimaan perpajakan yang terkoreksi terjadi karena batalnya penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
“Prognosis pendapatan negara untuk outlook penerimaan perpajakan itu mohon ditambahkan ‘selain diproyeksi perekonomian nasional, juga penerapan PPN 12% secara terbatas pada barang mewah’ karena mempengaruhi sekali,” kata Sri Mulyani, saat rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR, Jakarta, Kamis (3/7/2025).
Baca Juga
Bocorkan Kajian Lengkap Badan Penerimaan Negara, Burhanuddin: Itu Pemerintah yang Putuskan
Sementara itu, outlook Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) diperkirakan sebesar 92,9% dari APBN 2025. Angka target PNBP ini tidak dapat sempurna karena fluktuasi ICP dan lifting migas. Selain itu, pemerintah juga menyebut pengaruh moderasi harga mineral dan batubara yang terjadi sebagai sebab.
“Pengalihan setoran dividen BUMN dampak perubahan pengelolaan BUMN ke BPI Danantara serta peningkatan pendapatan layanan kementerian/lembaga (K/L)” kata Wakil Ketua Banggar DPR, Wihadi Wijanto.
Dalam keterangan resminya, Direktorat Jenderal Anggaran Kemenkeu memperkirakan kinerja belanja akan digenjot hingga mencapai Rp 2.120,4 triliun atau 58,6% dari alokasi APBN 2025. Percepatan belanja negara ini dipengaruhi sejumlah kebijakan antara lain program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan sekolah unggulan, pembangunan dan pelaksanaan sekolah rakyat, melanjutkan pemberian bantuan dan subsidi, serta pemberian Dana Insentif Fiskal tahun anggaran berjalan untuk pengendalian inflasi daerah, berupa ketahanan pangan, penurunan stunting, dan kemiskinan ekstrem.
Dengan memperhatikan strategi fiskal serta outlook Pendapatan Negara dan Belanja Negara, maka defisit anggaran sampai akhir tahun 2025 diperkirakan akan berada pada level 2,78% terhadap PDB atau lebih tinggi dari target APBN.
Kebijakan defisit tersebut diikuti kebijakan pembiayaan anggaran dengan komitmen menjaga kewaspadaan atas dinamika global terutama di pasar keuangan yang sangat tidak stabil (volatile).

