Bappenas: Sejarah Mencatat Ekonomi RI Tumbuh saat Dunia Tidak Baik-Baik Saja
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengungkap optimismenya terhadap upaya pemerintah mencapai percepatan pertumbuhan ekonomi di tengah situasi geopolitik dan geoekonomi global yang semakin tidak menentu.
Ia menyinggung proyeksi Bank Dunia yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 ini hanya pada kisaran 4,7%. Menurutnya Indonesia justru memiliki catatan yang baik dalam menghadapi situasi dunia yang cenderung kompleks.
"Justru inilah tantangan kita semua, kondisi ini dipicu oleh dinamika global yang masih diliputi volatilitas dan ketidakpastian. Namun seperti yang saya sampaikan, bahwa catatan sejarah kita menunjukkan dalam situasi dunia yang tidak baik-baik saja, kita justru tumbuh," ungkapnya saat menyampaikan paparan dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/7/2025).
Rachmat Pambudy menjelaskan, Indonesia pernah mencapai pertumbuhan ekonom hingga di atas 10%, yakni terjadi pada tahun 1968. Ia menyebut saat itu Indonesia berhasil mewujudkan stabilitas ekonomi, rehabilitas ekonomi dan keterbukaan investasi sehingga mampu mencapai pertumbuhan ekonomi 10,92%.
"Dan sejarah menunjukkan bahwa kondisi dunia yang tidak baik-baik saja, itu justru memberikan peluang kepada Indonesia untuk melakukan berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan produksi pangan, energi, dan juga hal-hal lain yang berkaitan dengan pembangunan kita," jelasnya.
Baca Juga
Bappenas Patok Pertumbuhan Ekonomi 6,3% di 2026 , Butuh Investasi Segini!
Bahkan ia mengungkap capaian serupa dapat diulangi oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1973 di mana pertumbuhan ekonomi menyentuh angka 8,10%. Ia mengatakan capaian itu merupakan cermin dari rencana pembangunan lima tahun (Repelita) yang dimulai sejak 1 April 1969 oleh pemerintahan saat itu.
"Dalam kondisi itu dunia juga sebenarnya sedang sulit, dan saya kira Pak Pimpinan Sidang juga masih ingat pada waktu itu ada persoalan-persoalan perang di mana-mana, tahun 1968 itu perang Vietnam, tahun 1973 itu ada persoalan-persoalan energi di dunia yang juga kita sulit, tetapi kita masih bisa tumbuh 8,10%," ujarnya.
Akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) itu melanjutkan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi kembali diulang oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1977 yang mencatatkan angka 8,76%. Saat itu, katanya, pemerintah melakukan kebijakan substitusi impor dan mendorong produksi dalam negeri.
Kemudian di tahun 1980 Bappenas juga mencatat capaian pertumbuhan yang tinggi lantaran adanya kebijakan berupa diversifikasi ekspor non-migas dan swasembada pangan. Ia melanjutkan, pada tahun 1988 pemerintah juga mencatatkan adanya pertumbuhan yang tinggi setelah melakukan deregulasi perbankan sehingga menggerakkan industri manufaktur.
"Rata-rata pertumbuhan antara tahun 1968-1979 itu 7,5%, antara tahun 1980-1996 itu 6,4%. Sementara dalam kondisi yang berbeda, setelah kita krisis justru kita mengalami kontraksi dan pertumbuhan tercatat rata-rata 5,3% pada tahun 2000-2019 dan tahun 2022-2024 mencapai 5,1%," jelasnya.

