Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.292 karena Gencatan Senjata Israel-Iran dan Sinyal The Fed
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar atau kurs rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (25/6/2025) hari ini. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI) kurs rupiah menguat 78 poin (0,74%) ke level Rp 16.292 per dolar AS.
Pada perdagangan di pasar spot valas, berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 16.30 WIB, kurs rupiah menguat 53 poin (0,33%) ke level Rp 16.300 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, investor tengah mencermati pembicaraan gencatan senjata Israel-Iran Trump pada Senin (23/6/2025) malam. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata bertahap antara Israel dan Iran, menyerukan kedua belah pihak untuk menegakkan perjanjian tersebut.
Baca Juga
Puan Soroti Rupiah dan Subsidi BBM di Tengah Ancaman Penutupan Selat Hormuz
Namun, skeptisisme tetap ada tentang keberlangsungan gencatan senjata, karena Trump dengan cepat mengutuk kedua negara karena melanggar kesepakatan segera setelah deklarasinya. Meski begitu, pengumumannya telah meningkatkan harapan bahwa konflik 12 hari yang ditandai serangan udara mematikan itu akhirnya akan berakhir.
"Selain itu, Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memperingatkan kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang lebih tinggi dapat mulai mendorong inflasi pada musim panas ini. Periode tersebut akan menjadi kunci bagi pertimbangan bank sentral AS dalam memangkas suku bunga," ungkap Ibrahim dalam laporannya, Rabu (25/6/2025).
Baca Juga
Rupiah dan Mata Uang Emerging Markets Kompak Melemah terhadap Dolar AS
Hal tersebut disampaikan Powell saat menjawab pertanyaan anggota Kongres AS dalam sidang Komite Jasa Keuangan DPR AS pada Selasa (24/6/2025) waktu setempat. Powell mendapat tekanan dari anggota Partai Republik terkait alasan The Fed belum memangkas suku bunga, seperti yang didesak oleh Presiden Donald Trump.
"Menurut Powell, dirinya dan banyak pejabat The Fed memperkirakan inflasi akan mulai naik dalam waktu dekat, sehingga bank sentral belum merasa perlu segera menurunkan biaya pinjaman," tutup Ibrahim.

