Sri Mulyani Bongkar 2 Ancaman Global Imbas Perang Iran-Israel
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut dua hal paling ditakuti akibat dampak perang Iran dan Israel. Di tengah ketidakpastian perdagangan global, konflik di Timur Tengah memunculkan risiko ketidakpastian jangka menengah.
“Risiko pertama adalah ketidakpastian harga yang cenderung naik, seperti harga minyak meroket,” kata Sri Mulyani saat paparan APBN Kita edisi Juni 2025, di kantornya, Jakarta, Selasa (17/6/2025).
Baca Juga
Harga Minyak Bisa Tembus US$100 jika Perang Israel-Iran Meluas, Ini 3 Dampak Mengerikan untuk RI
Kedua, dari sisi perekonomian global, pada Juni 2025 akan cenderung melemah. Kondisi ini karena disrupsi akibat geopolitik dan keamanan terhadap harga komoditas. “Itu menyebabkan tekanan harga, berarti inflasi naik, tetapi dikombinasikan dengan ketidakpastian yang menyebabkan ekonomi global melemah,” kata dia.
Menurut Sri Mulyani, kombinasi harga komoditas naik dan ketidakpastian keamanan menyebabkan perekonomian global cenderung melemah. “Itu kombinasi yang harus kita waspadai karena tidak baik,” kata dia.
Pelemahan ekonomi, kata Sri Mulyani, akan berdampak buruk. Kenaikan inflasi membuat naiknya imbal hasil suku bunga. Hal ini juga akan membuat nilai tukar dan suku bunga global berfluktuasi signifikan.
Baca Juga
Balas Pernyataan Israel, Dubes Iran: Perang Berhenti Jika Netanyahu Terbunuh
Sementara itu, kondisi perekonomian di Amerika Serikat (AS), India, Arab Saudi, Rusia, dan Filipina masih ekspansif. Meski begitu, sebanyak 70,8% negara di dunia mengalami tekanan yang terefleksi melemahnya Purchasing Manager Index (PMI) global. “PMI global 49,6 berarti secara global kegiatan sektor manufaktur cenderung kontraksi dan angka ini terendah sejak Desember 2024,” ujar dia.
Indonesia sendiri tercatat mengalami kontraksi. PMI manufaktur Indonesia pada Mei 2025 tercatat sebesar 47,7. “Ini adalah dampak keamanan geopolitik yang makin rapuh dan rentan sehingga berimplikasi terhadap kegiatan ekonomi, ekspor, impor, manufaktur, dan capital flow yang berdampak ke seluruh dunia,” kata dia.

