JAKARTA, investortrust.id -
Kurs rupiah bergerak melemah pada perdagangan Jumat (13/06/2025) pagi. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar mata uang Garuda bergerak melemah 60 poin (0,37%), kembali di atas level Rp 16.300 per dolar Amerika Serikat, tepatnya Rp 16.303.

Menurut Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, kegelisahan pasar dipicu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengirim surat resmi kepada mitra dagang utama dalam satu hingga dua minggu ke depan. Surat itu akan merinci langkah-langkah tarif sepihak yang dimaksudkan Trump untuk menekan negara-negara lain agar membuat perjanjian perdagangan yang baru.

"Pengumuman itu muncul menjelang berakhirnya jeda tarif timbal balik selama 90 hari bulan depan. Pada saat yang sama, Presiden Trump mengklaim bahwa AS telah mencapai kesepakatan besar dengan Tiongkok," kata Andry dalam keterangan di Jakarta, Jumat (13/06/2025).. 

Baca Juga

Prabowo Minta Menkeu Tak Khawatirkan Pembangunan Giant Sea Wall Jakarta

 



Penaikan Tarif Belum Dongkrak Inflasi 

Di sisi ekonomi, lanjut Andry, data harga produsen AS berada di bawah ekspektasi. Hal ini memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi lantaran penaikan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump belum terjadi. 

"Sementara itu, klaim pengangguran awal AS sedikit di atas perkiraan. Klaim pengangguran awal di AS tetap stabil di angka 248.000 pada minggu pertama bulan Juni, tidak berubah dari angka revisi minggu sebelumnya dan menentang ekspektasi pasar untuk penurunan menjadi 240.000," ujarnya.

Baca Juga

Israel Serang Iran, Saham Emiten Migas hingga Emas Ada ENRG hingga RATU bisa Terkerek


Sebelumnya indeks dolar AS melanjutkan penurunannya pada hari Kamis. DXY jatuh di bawah 97,8 hingga mencapai level terendah sejak 2022.

Anjloknya kembali DXY karena ketegangan perdagangan baru dan risiko geopolitik membebani sentimen pasar.

Baca Juga

Asing Berbalik Net Sell Saham Rp 0,28 Triliun, Masih Net Buy SBN