Rupiah Sempat Tembus Rp 17.000 pada Awal April 2025, Bank Dunia Punya Analisis Ini
JAKARTA, investortrust.id - Bank Dunia membuat analisis mengenai kondisi rupiah yang sempat melemah hingga menembus Rp 17.000 per US$ pada awal April 2025. Analisis tersebut disampaikan dalam Global Economic Prospect (GEP) Juni 2025.
“Nilai tukar rupiah mengalami tekanan karena kebijakan dalam negeri yang tidak pasti, ini membuat rupiah jatuh ke level terendah dalam sejarah pada awal April 2025,” tulis laporan tersebut diakses Kamis (12/6/2025).
Meski demikian Bank Dunia tak menjelaskan secara rinci kebijakan pemerintah yang dimaksud.
Selain kebijakan pemerintah yang tak pasti, Bank Dunia melihat pelemahan rupiah juga disebabkan pengumuman tarif resiprokal yang disampaikan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada April 2025. Akibat pengumuman tarif ini, arus modal keluar dari negara-negara berkembang.
Baca Juga
“Meskipun pergerakan ini sebagian besar berbalik setelah jeda tarif diumumkan,” jelas laporan tersebut.
Bank Dunia mencatat, sebagian besar mata uang di negara-negara berkembang telah terapresiasi terhadap dolar AS sejak awal tahun, kecuali untuk beberapa negara dengan perekonomian domestik yang rentan.
Perbedaan imbal hasil obligasi negara-negara berkembang juga telah meningkat secara keseluruhan dalam beberapa bulan terakhir sejak awal tahun. Lonjakan imbal hasil itu mulai terlihat pada April 2025 terutama pada obligasi negara-negara yang menghadapi hambatan perdagangan ekspor lebih tinggi.
Meredanya gejolak perdagangan global akibat jeda pengenaan tarif resiprokal membuat perbedaan imbal hasil ini menurun.
Melihat kondisi ini, Bank Dunia melihat kebijakan moneter negara-negara berkembang relatif lebih berhati-hati. Bank sentral di beberapa negara berkembang mulai melonggarkan, atau mempertahankan, suku bunga bank sentral.
Baca Juga
Langkah melonggarkan atau mempertahankan suku bunga bank sentral, tulis Bank Dunia, sebagai bentuk respons hambatan perdagangan global yang tinggi dan pergeseran minat investor terhadap aset keuangan negara-negara berkembang.
Meski tekanan terhadap nilai mata uang yang berat, Bank Dunia mencatat terjadinya inflasi yang rendah.
Sejak melemah pada April 2025, Mata Uang Garuda bergerak pada kisaran Rp 16.000 per US$. Rupiah sempat melanjutkan tren penguatan terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (11/6/2025).
Data Bloomberg menunjukkan kurs rupiah menguat 15 poin atau 0,09% ke level Rp 16.260 per US$. Penguatan ini diwarnai sentimen global, salah satunya pengadilan banding terhadap tarif Trump.

