Rupiah Sempat Tembus Rp 17.000 per US$, Terdesak Harga Minyak Dunia
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menyentuh angka Rp 17.001 per US$ atau melemah 0,45% pada Senin (9/3/2026). Angka tersebut kemudian berangsur ke Rp 16.977 per US$ atau naik 0,31% pada 09.49 WIB.
Indeks dolar AS atau DXY menyentuh 99,55. Dolar AS bergerak menguat terhadap sejumlah mata uang. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 0,59%, terhadap yuan China menguat 0,21%, terhadap rupee India sebesar 0,16%, dan ringgit Malaysia sebesar 0,47%.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede pelemahan rupiah menembus Rp17.000 hari ini terutama dipicu kombinasi tekanan global yang datang bersamaan.
Baca Juga
Rupiah Melemah, Imbas Permintaan Safe Haven di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran
Eskalasi perang di Timur Tengah mendorong harga minyak melonjak di atas US$ 100 per barel, bahkan sempat melampaui US$ 110 per barel, sehingga pasar khawatir terhadap gangguan pasokan energi dan kenaikan inflasi global.
"Dalam situasi seperti ini, dolar AS menguat karena dipandang sebagai tempat paling aman bagi investor, sementara harapan penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat juga makin mundur sehingga tekanan ke mata uang negara berkembang bertambah besar," kata Josua dikutip Senin (9/3/2026).
Untuk Indonesia, tekanan itu menjadi lebih terasa karena sentimen terhadap aset domestik sudah lebih rapuh setelah outlook rating dari lembaga pemeringkat terhadap Indonesia menurun, dan data juga menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp 17.015 per US$ hari ini.
Baca Juga
Rupiah Menguat di 16.880/US$ Dipicu Sinyal Meredanya Konflik
Yang perlu dilakukan Bank Indonesia, kata Josua, adalah menempatkan stabilitas rupiah sebagai prioritas utama. Sehingga langkah yang paling tepat saat ini bukan tergesa menurunkan suku bunga acuan, melainkan menahan suku bunga sambil memperkuat kehadiran di pasar valuta asing dan pasar surat berharga negara agar gejolak tidak berubah menjadi kepanikan.
Bank Indonesia sendiri pada Februari 2026 masih mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% dengan fokus pada penguatan stabilisasi rupiah, dan ruang pelonggaran suku bunga menjadi sangat sempit ketika rupiah sedang tertekan. Selain itu, komunikasi BI harus dibuat sangat tegas bahwa cadangan devisa, likuiditas valuta asing domestik, dan koordinasi dengan pemerintah tetap kuat, karena bila lonjakan harga minyak bertahan lama maka tekanannya tidak hanya mengenai nilai tukar, tetapi juga inflasi, biaya impor, dan beban anggaran.
"Jadi, kuncinya sekarang adalah meredam gejolak, menjaga kepercayaan pasar, lalu baru membuka ruang pelonggaran ketika tekanan eksternal mulai turun," kata dia.

