Asing Net Buy Luar Biasa Besar, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id - Berdasarkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah pekan ini. Investor asing tercatat membukukan net buy luar biasa besar menembus Rp 14,73 triliun di pasar keuangan domestik.
"Kami laporkan aliran modal asing minggu III-Mei 2025, berdasarkan data transaksi 19-22 Mei, secara agregat non-resident tercatat beli neto sebesar Rp 14,73 triliun. Ini terdiri dari beli neto sebesar Rp 1,54 triliun di pasar saham dan Rp 14,13 triliun di pasar SBN (Surat Berharga Negara), serta jual neto sebesar Rp 0,95 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI)," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan di Jakarta, 23 Mei 2025 malam.
Aliran masuk modal asing itu jauh lebih besar dibanding Minggu II Mei 2025, berdasarkan data transaksi 14-15 Mei yang dilaporkan BI. Secara agregat, non-resident tercatat 'hanya' beli neto sebesar Rp 4,14 triliun. Ini terdiri dari beli neto sebesar Rp 4,52 triliun di pasar saham dan Rp 1,14 triliun di SRBI, serta jual neto sebesar Rp 1,52 triliun di pasar SBN.
Baca JugaPendapatan Melonjak Hampir Rp 300 Triliun, APBN Berbalik Surplus Rp 4,3 Triliun
Aliran deras dana asing masuk ke SBN tersebut seiring terus diturunkannya suku bunga SRBI oleh Bank Indoesia. Pada lelang 23 Mei 2025, SRBI turun ke kisaran 6,23-6,28%. SRBI adalah surat berharga dalam mata uang rupiah yang diterbitkan BI sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (hingga 12 bulan) dengan menggunakan underlying aset surat berharga milik Bank Indonesia, sebagaimana ketentuan mengenai Operasi Moneter.
Sementara itu sepanjang tahun 2025 (year to date), berdasarkan data setelmen hingga 22 Mei 2025, non-resident tercatat jual neto sebesar Rp 47,52 triliun di pasar saham dan Rp 14,52 triliun di SRBI. Namun, asing masih beli neto sebesar Rp 40,06 triliun di pasar SBN.
Sementara itu, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 22 Mei 2025 sebesar 82,20 bps, naik terbatas dibandingkan dengan 16 Mei 2025 sebesar 81,56 bps. CDS adalah instrumen derivatif keuangan yang berfungsi sebagai asuransi terhadap risiko gagal bayar atau default surat utang.
Rupiah Perkasa, Yield SBN 6,82%
Bank Sentral juga menyampaikan perkembangan nilai tukar 19-23 Mei 2025. "Pada akhir hari Kamis, 22 Mei 2025, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 16.325 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun turun ke 6,83%. Sedangkan DXY (indeks dolar AS) melemah ke level 99,96 dan imbal hasil UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke 4,529%," ujar Denny.
Indeks dolar AS menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). UST Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
"Pada pagi hari Jumat, 23 Mei 2025, rupiah dibuka pada level (bid) Rp16.300 per dolar AS. Sedangkan yield SBN 10 tahun turun ke 6,82%," papar Denny.
Baca Juga
Bank Indonesia, lanjut dia, akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait. Selain itu, mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.
Sementara itu, indeks dolar terus melemah dari pagi hingga tengah malam. Secara year to date, DXY sudah melemah 8,60% ke level 99,17.

