Wamenkeu Sebut Pengelolaan Fiskal Tetap Hati-hati di Tengah Perang Tarif
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono mengatakan Indonesia tetap mengelola kinerja fiskal dengan hati-hati di tengah perang tarif yang dikumandangkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ini ditunjukkan dengan kinerja APBN yang hanya mengalami defisit 0,43% per 31 Maret 2025.
“Kinerja ini menunjukkan perencanaan keuangan yang cermat dan pelaksanaan anggaran yang responsif dalam menghadapi dinamika perekonomian,” kata Thomas saat menghadiri HSBC Summit 2025, Selasa (22/4/2025).
Thomas mengatakan pemerintah telah cepat beradaptasi dengan tantangan global. Ini ditunjukan dengan terus menjaga stabilitas ekonomi makro dan melanjutkan reformasi struktural.
Menurut dia, APBN 2025 akan tetap difokuskan terhadap peningkatan pendapatan negara, efisiensi belanja, dan program prioritas Presiden Prabowo Subianto semisal, program makan bergizi gratis dan koperasi desa.
Baca Juga
Menko Airlangga: Pasar Domestik dan APBN Jadi Peredam Guncangan Ekonomi Global
“Dalam jangka pendek, kebijakan fiskal akan difokuskan pada upaya mempertahankan momentum program prioritas pemerintah, seperti program makan bergizi gratis dan koperasi desa,” kata dia.
Selain itu, pemerintah akan memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia, ketahanan pangan, energi, dan air. Pemerintah juga akan meningkatkan hilirisasi komoditas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo, pengembangan sumber daya manusia menjadi prioritas utama. Terutama di bidang pendidikan dan kesehatan untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif,” ucap dia.
Hingga 31 Maret 2025, APBN mencatatkan pendapatan negara sebesar Rp 516,1 triliun atau 17,2% dari target. Realisasi belanja mencapai Rp 620 triliun atau 17,1% dari pagu APBN.

