Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.805 per Dolar AS, Simak Sentimennya!
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup melemah dalam perdagangan Jumat (11/4/2025) hari ini. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI) kurs rupiah merosot 26 poin (0,15%) ke level Rp16.805 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya Jisdor BI mencatatkan mata uang rupiah menguat ke level Rp16.779 per dolar AS.
Namun pada perdagangan pasar spot, dilansir dari Yahoo Finance kurs rupiah menguat tipis 5 poin (0,03%) ke level Rp16.790 per dolar AS. Sebelumnya Yahoo Finance mencatatkan mata uang rupiah menguat di posisi Rp16.795 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkap sentimen yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar sepanjang perdagangan hari ini. Dia menjelaskan dolar AS tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran atas resesi AS, terutama karena Washington dan Beijing saling mengenakan tarif yang sangat besar.
"Presiden Donald Trump pada hari Kamis menaikkan tarif terhadap China hingga 145% yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara tarif Tiongkok sebesar 84% terhadap AS juga mulai berlaku," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (11/4/2025).
Baca Juga
AS Melambungkan Tarif Impor Cina 145%, Rupiah Lanjut Menguat
Para pedagang khawatir atas dampak dari serentetan tarif, mengingat AS masih mengimpor beberapa bahan yang sulit digantikan dari China. Meskipun Trump menunda rencana tarif perdagangan timbal balik terhadap negara lain selama 90 hari, perang dagang dengan Beijing masih berpotensi menimbulkan implikasi yang mengerikan bagi importir dan eksportir Amerika.
"Dolar juga terpukul oleh data inflasi konsumen yang lebih rendah dari perkiraan untuk bulan Maret, yang mendorong beberapa taruhan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga lebih cepat, terutama di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari perang dagang," sebutnya.
Namun, lanjutnya, bank sentral telah mengambil sikap yang sangat hati-hati atas kebijakan Trump. Penurunan harga Treasury AS yang berkelanjutan, di tengah keraguan atas ekonomi AS di bawah Trump, juga menambah tekanan pada dolar.
Selain itu, China secara luas diperkirakan akan membiarkan mata uangnya melemah lebih jauh dalam beberapa minggu mendatang, mengingat yuan yang lebih murah membuat ekspor Tiongkok lebih menarik. Langkah ini diharapkan dapat membantu mengimbangi beberapa hambatan dari perang dagang yang sengit dengan Amerika Serikat.

