Airlangga: Penyelesaian Preferential Trade Agreement Kembangkan Perdagangan RI-Turkiye hingga US$ 10 Miliar
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto mendorong pengembangan kerja sama perdagangan Indonesia-Turkiye menjadi US$ 10 miliar, sekitar 4 kali lipat dari nilai perdagangan kedua negara pada 2024 sebesar US$ 2,4 miliar. Untuk itu, limited preferential trade agreement harus segera diselesaikan.
Hal tersebut dikatakan Menko Airlangga saat menyampaikan sambutan utama pada Turkiye Indonesia CEO Roundtable Meeting di Ankara, Turkiye, Kamis (10/04/2025). Menko mewakili Pemerintah Republik Indonesia dalam acara yang diselenggarakan di sela Kunjungan Kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto ke Turki untuk pertemuan bilateral dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan menjadi pembicara pada Leader’s Talk dalam Antalya Diplomacy Forum di Ankara dan Antalya.
Pertemuan para chief executive officer (CEO) kedua negara yang diselenggarakan Kadin Indonesia dan The Foreign Economic Relations Board of Turkey (DEIK) itu dihadiri lebih dari 50 pemimpin bisnis kedua negara, yang mewakili berbagai sektor usaha. Ini antara lain pertahanan, teknologi, konstruksi, infrastruktur, energi, industri kesehatan, farmasi, manufaktur, pendidikan vokasi, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“Indonesia dan Turki perlu memperkuat kerja sama ekonomi. Kami melihat potensi yang masih sangat besar antara kedua negara, di tengah ketidakpastian global dan tren proteksionisme yang baru saja dilakukan oleh Amerika Serikat. Perdagangan kedua negara pada 2024 sekitar US$ 2,4 miliar dan ditargetkan oleh kedua Kepala Negara untuk mencapai hingga US$ 10 miliar. Maka itu, percepatan dan implementasi dari limited preferential trade agreement menjadi suatu keharusan,“ kata Menko Airlangga dalam keterangan pada Jumat (11/04/2025).
Melalui perjanjian perdagangan ini, kedua negara dapat fokus pada beberapa produk utama untuk dibebaskan, baik secara tarif maupun nontarif, dengan waktu negosiasi yang relatif lebih cepat.
Baca Juga
Airlangga menuturkan, Indonesia dan Turki memiliki fundamental ekonomi yang relatif stabil, dengan konsumsi domestik cukup tinggi. Tahun 2025, lanjut dia, menandai 75 tahun kerja sama bilateral kedua negara sahabat ini. Untuk itu, kerja sama tahap lanjutan menjadi suatu keharusan bagi kedua negara.
Indonesia Hub Perdagangan ASEAN
Deputi Menteri Perdagangan Turki Ozgur Volkan Agar mengatakan, Turki melihat Indonesia sebagai mitra utama dan hub bagi perdagangan di kawasan ASEAN. Turki telah memiliki kerja sama perdagangan bebas dengan Malaysia dan Vietnam, sehingga sudah menjadi keharusan bahwa limited preferential trade agreement segera diselesaikan, sejalan dengan mandat kedua negara. Di sisi lain, Indonesia juga dapat melihat Turki sebagai hub untuk masuk pada pasar Uni Eropa dan mendukung percepatan penyelesaian perundingan Indonesia-Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
“Ada potensi produk pertanian Turki untuk bisa masuk ke pasar Indonesia. Dan sebaliknya, Turki juga terbuka terhadap ekspor produk pertanian dan kehutanan Indonesia ke pasar Turki,” ujar Menteri Pertanian dan Kehutanan Turki Ibrahim Yukmali.
Baca Juga
Produk-produk tersebut dapat menjadi bahan baku bagi industri makanan minuman serta sektor industri kerajinan di Turki, sehingga dapat memberikan keuntungan bagi kedua
negara. Pihaknya menekankan bahwa proteksionisme perdagangan yang saat ini dilakukan beberapa negara di dunia justru akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan negara-negara utama dunia.
Turut hadir mendampingi Menko dalam Turkiye-Indonesia CEO Roundtable Meeting tersebut di antaranya adalah Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama, Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Umar Hadi, serta Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso.

