JAKARTA, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat kejutan arah kebijakannya. Terbaru, Trump menunda pemberlakuan tarif impor resiprositas yang awalnya ditetapkan berlaku tanggal 9 April waktu setempat. Trump menurunkan tarif resiprositas atas impor dari sebagian besar mitra dagang AS menjadi 10% untuk 90 hari, guna membuka negosiasi perdagangan dengan negara-negara mitra.

Pengamat ekonomi dan kebijakan publik Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menduga, kebijakan yang hendak dilaksanakan oleh Trump tersebut diprotes keras oleh kelompok pengusaha yang menjadi pendonor utamanya. "(Para pengusaha protes) karena nilai saham mereka turun drastis," kata dia saat dihubungi Investortrust, Jakarta, Kamis (10/04/2025)

.

Yield Obligasi AS Melejit

Dia menuturkan, kebijakan penaikan tarif impor oleh Trump dapat meningkatkan risiko global, sehingga yield obligasi pemerintah AS melejit. Padahal, kata Wijayanto, pemerintah AS semestinya melakukan refinancing utang yang nilainya sebesar US$ 9,2 triliun.

"(Alasan) terakhir, Trump memberi kesempatan negosiasi untuk mendapatkan deal terbaik. Artinya, ancaman pertama berfungsi sebagai gertakan semata," tandas Wijayanto.


Trump mengumumkan penangguhan tersebut beberapa jam setelah barang dari hampir 90 negara menjadi subjek tarif balasan yang diberlakukan oleh ekonomi terbesar dunia itu.


Ribuan orang berkumpul di jalan-jalan Chicago untuk memprotes kebijakan Presiden AS Donald Trump dan orang terkaya dunia Elon Musk, bergabung dengan lebih dari 1.400 aksi unjuk rasa di seluruh AS pada tanggal 5 April 2025. Gerakan 'Hands Off!' merupakan respons terhadap kebijakan Trump dan Musk, yang oleh banyak orang dianggap sebagai serangan terhadap nilai-nilai dan kebebasan Amerika. Para pengunjuk rasa menuntut diakhirinya pemotongan lapangan kerja, pelanggaran privasi, dan penyerangan terhadap layanan, serta menyerukan kembalinya nilai-nilai demokrasi. Foto: Anadolu/Jacek Boczarski 



Presiden AS itu juga menyatakan dalam sebuah postingan di media sosial bahwa ia menaikkan tarif atas impor barang dari Cina menjadi 125%, yang “berlaku segera” karena “kurangnya rasa hormat yang ditunjukkan Cina terhadap pasar dunia.”


Cina, yang merupakan mitra dagang ketiga terbesar AS, sebelumnya pada hari Rabu mengatakan akan meningkatkan tarif impor barang dari AS menjadi 84%. Trump selanjutnya mengatakan, lebih dari 75 negara telah menghubungi pejabat AS untuk bernegosiasi setelah ia mengumumkan tarif baru 2 April.


Saham Melonjak

Indeks pasar saham melonjak tajam pada hari Rabu setelah pengumuman Trump, membalikkan penurunan selama empat hari. Indeks acuan S&P 500 melonjak sebesar 7%, yang menempatkannya di jalur kenaikan harian terbesar dalam lima tahun.


Ketika ditanya kemudian tentang alasan keputusannya, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa orang-orang mulai bereaksi berlebihan. “Mereka menjadi terlalu bersemangat. Anda tahu, mereka mulai sedikit panik, sedikit takut,” kata Trump di Gedung Putih, seperti dikutip CNBC.

Sementara itu, ​beberapa pengusaha terkemuka yang dikabarkan menjadi pendonor utama dalam kampanye maupun inaugurasi Presiden Donald Trump pada pemilihan presiden AS 2024 antara lain:

  • Elon Musk: CEO Tesla dan SpaceX ini menyumbangkan sekitar US$ 130 juta untuk kampanye Trump dan Partai Republik. 

  • Anthony Pratt: Pengusaha asal Australia dan pemilik Pratt Industries, Anthony Pratt, menyumbangkan sekitar US$  15,1 juta untuk mendukung kampanye Trump. 

  • John Paulson: Manajer hedge fund dan pendiri Paulson & Co, John Paulson, menjadi penggalang dana utama untuk kampanye Trump. Pada 6 April 2024, kampanye Trump mengumpulkan sekitar US$ 50,5 juta dalam acara yang diadakan di kediaman Paulson di Palm Beach.


    Para tamu termasuk (ki-ka) orang-orang terkaya dunia Mark Zuckerberg, Lauren Sanchez (pasangan Jeff Bezos), Jeff Bezos, Sundar Pichai, dan Elon Musk menghadiri pelantikan Donald J Trump di US Capitol Rotunda pada 20 Januari 2025 di Washington, DC. Sumber: CNBC
  • Marc Andreessen: Investor teknologi dan pendiri Andreessen Horowitz, Marc Andreessen, memberikan dukungan finansial signifikan kepada kampanye Trump.

Atur Ulang Stategi

Keputusan Trump menunda pemberlakuan tarif impor ini berdampak positif bagi Indonesia. Penundaan itu membuat pemerintah Indonesia memiliki waktu lebih untuk mengatur ulang strategi diplomasi perdagangan dengan AS.


Lebih jauh, Wijayanto menilai keputusan Trump ini sekaligus memberikan pesan di mana AS tidak memiliki kekuatan dan keberanian sebesar yang dibayangkan sebelumnya. "Kita (Indonesia) perlu lebih yakin. Tetapi, segala langkah harus terukur," kata dia.

Baca Juga

Trump Tunda Kenaikan Tarif dan FFR Bisa Turun 75 Bps, Rupiah Rebound


Kalibrasi Fiskal ke Penciptaan Kerja
Selain menyusun ulang strategi diplomasi, ekonom Universitas Paramadina itu mengimbau agar pemerintah segera melakukan kalibrasi fiskal. Dia mengatakan, program-program pemerintah yang menyerap alokasi anggaran besar dengan dampak jangka panjang perlu untuk dikalibrasi ulang.


"Alokasi lebih banyak perlu diberikan kepada program pemerintah yang berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya beli masyarakat," sebutnya.


Wijayanto melanjutkan, dalam situasi seperti ini, kebijakan penyimpanan devisa hasil ekspor (DHE) perlu dilakukan sebaik-baiknya. Kebijakan DHE dapat berperan untuk memperkuat cadangan devisa Indonesia.

Di sisi lain, dia menyebut pemerintah perlu segera membatasi aliran impor, utamanya yang bersifat ilegal. "Aliran impor perlu dibatasi, impor ilegal diberantas tuntas. Ini untuk memberi ruang gerak bagi produsen dalam negeri dan mencegah kehilangan pendapatan negara," ungkap dia.