Senjata Hadapi Perang Tarif Trump, Menandai Senjakalaning AS
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Di Jerman ada rumah Johann Wolfgang von Goethe, penulis terkemuka yang menghasilkan interpretasi paling berpengaruh dari legenda Faust. Dalam cerita itu, seorang pesulap dan alkemis menawarkan jiwanya yang abadi kepada iblis, untuk mendapatkan kekuasaan dan kekayaan jangka pendek. Pengumuman penaikan tarif impor minggu lalu oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dapat dilihat sebagai tawar-menawar ala Faust AS.
Di antara para chief executive officer (CEO) dan dewan direktur di kedua sisi Atlantik, kepercayaan sudah goyah. Pasar mergers and acquisitions (M&A) merupakan barometer yang baik untuk minat bisnis terhadap investasi jangka panjang, dan dalam dua bulan pertama tahun ini, pengumumannya adalah yang terendah dalam 20 tahun terakhir.
Baca Juga
Asing dan Orang Kaya Buru SBN dan Net Sell Saham, Dampaknya?
Lebih dari Sekadar Ketidakpastian
Tidak sulit untuk mengetahui alasannya. Kepercayaan diri tidak dapat dipisahkan dari prediktabilitas, dan selama bulan lalu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan penaikan tarif impor yang luas dan mengeluarkan serangkaian pernyataan kebijakan yang dapat menjungkirbalikkan geopolitik global. Hal ini menimbulkan keraguan terhadap komitmen ekonomi dan mengganggu kinerja lembaga federal.
Namun, masalahnya lebih dalam daripada sekadar ketidakpastian. Ketika kerangka kerja pengambilan keputusan Anda hanya sekadar tawar-menawar ala Faustian untuk keuntungan jangka pendek, Anda sering kali tidak akan menyadari konsekuensi jangka panjang dari tindakan Anda, hingga semuanya terlambat.
Tarif adalah contoh kasusnya. Pemerintahan Trump yakin bahwa AS akan berada di posisi yang lebih unggul dalam perang dagang apa pun, karena ekspor barang dan jasa jauh lebih tidak penting bagi ekonomi AS daripada bagi sebagian besar mitra dagangnya.
Jadi, meski penaikan tarif impor akan mengganggu ekonomi AS, tarif akan jauh lebih merugikan Tiongkok, Kanada, atau Uni Eropa, di antara target Trump yang lain. Namun, perang dagang biasanya tidak berhenti pada barang dan jasa; sebaliknya, tarif sering kali meluas hingga mencakup pengendalian modal. Di sinilah letak biaya tersembunyi dari kebijakan perdagangan pemerintahan Trump.
Dibalas Pemberlakuan Pajak?
Saat ini, negara-negara asing memegang hampir seperempat utang pemerintah AS. Mereka mengumpulkan uang untuk membeli utang ini – dengan demikian membiayai defisit anggaran kronis Amerika dan mengimbangi tingkat tabungan yang rendah. Sebagian dengan menjalankan surplus perdagangan dengan AS, yang memungkinkan mereka membangun cadangan dolar. Mereka sama sekali tidak diharuskan untuk menginvestasikan hasil surplus perdagangan mereka dalam utang AS, tetapi mereka sering melakukannya.
Tetapi, bagaimana jika mitra dagang utama Amerika memberlakukan pajak atas pembelian sekuritas berdenominasi dolar yang diterbitkan oleh pemerintah AS atau perusahaan-perusahaan AS? Sumber pendanaan yang signifikan untuk lelang Treasury akan menguap, dan biaya pinjaman pemerintah AS akan meningkat.
Karena semakin banyak modal domestik mengalir menuju lelang Treasury, investasi di sektor-sektor lain akan terdesak, spread akan melebar, dan biaya modal akan meningkat. Suku bunga hipotek, suku bunga kartu kredit, dan biaya pinjaman untuk bisnis akan meningkat, menghasilkan hambatan pasar dan tekanan ekonomi terhadap AS yang semakin kuat. Bahkan, ancaman pajak semacam itu akan memengaruhi imbal hasil obligasi AS. Tidak sulit untuk membayangkan strategi cadangan dolar asing yang lebih halus, yang akan mencapai hasil yang sama dengan cara di atas.
Baca Juga
Beberapa pihak mungkin berpendapat bahwa mitra dagang Amerika tidak mungkin mengambil langkah tersebut, karena hal itu juga akan menimbulkan biaya yang tinggi bagi mereka, mulai dari hilangnya pendapatan atas cadangan dolar AS mereka hingga risiko yang lebih tinggi akibat pengalihan investasi ke negara lain. Namun, biaya bagi AS akan jauh lebih besar, dan mereka akan bangkit lebih cepat. Jauh lebih mudah untuk mengalihkan investasi finansial, daripada membangun hubungan dagang baru.
Bahkan jika pajak atau kebijakan lain yang menghambat pembelian sekuritas AS menyebabkan semacam 'mutual assured destruction', mitra dagang Amerika mungkin memutuskan bahwa hal itu sepadan, terutama karena mereka memiliki sedikit pilihan lain untuk melawan penaikan tarif secara efektif. Semakin agresif perdagangan dijadikan senjata, semakin besar godaan mereka untuk menggunakan senjata tersebut dan "bertindak agresif."
Politiknya tentu saja menarik: "Jika AS mengenakan pajak pada barang-barang kami, kami akan mengenakan pajak pada utangnya sebagai senjata". Hal ini akan menjadi seruan yang menarik bagi pemimpin ekonomi yang berada di bawah tekanan tarif AS.
Pemerintahan Trump jelas menyukai gagasan menggunakan tarif untuk mendapatkan konsesi dari mitra dagang Amerika. Namun, tawaran yang tampaknya akan dibuat oleh pemerintah Trump untuk memenuhi tujuan jangka pendeknya tersebut menimbulkan risiko besar bagi ekonomi Amerika. Dan, kita sedang melihat tanda-tanda senjakalaning (keruntuhan) AS sebagai superpower dunia.
Saya sarankan Tiongkok tidak usah gentar menghadapi Trump. Kalau Trump 'jual', maka Xi harus berani 'beli', dan itu akan menjadikan Cina negara adidaya baru dalam waktu lebih cepat!
Solo, 11 Maret 2025

