Fitch Rating Proyeksikan Kondisi Fiskal Indonesia dalam Ketidakpastian
JAKARTA, investortrust.id - Lembaga pemeringkat kredit international, Fitch Rating masih memproyeksikan defisit fiskal Indonesia berada pada kisaran 2,5% dari PDB pada 2025. Angka ini sesuai dengan target defisit APBN 2025 yang disepakati pemerintah yaitu 2,53% dari PDB atau senilai Rp 616,2 triliun. Meski demikian, Fitch Rating memberi catatan mengenai kondisi fiskal yang dalam kondisi tak menentu. Terutama dalam jangka menengah.
“Membatalkan rencana kenaikan tarif PPN sebesar 1 poin persentase (pp) akan mengakibatkan hilangnya pendapatan yang diperkirakan oleh Fitch sebesar 0,3% dari PDB,” tulis Fitch dalam laporannya, diakses Rabu (12/3/2025).
Fitch menilai upaya pemerintah untuk meningkatkan efisiensi belanja, termasuk pemotongan belanja sebesar 1,3% dari PDB yang dialihkan ke program makan gratis berpotensi menyebabkan belanja yang kurang optimal.
Baca Juga
Menanti Publikasi APBN KiTa yang Tertunda dan Dampaknya ke Investor
“Kami memperkirakan peningkatan ringan dalam defisit anggaran dalam beberapa tahun mendatang untuk mengakomodasi tambahan belanja sosial publik dan investasi infrastruktur pemerintah,” tulis Fitch.
Ini mencerminkan asumsi dasar Fitch bahwa pemerintah, yang didukung oleh koalisi parlemen yang luas, akan terus mematuhi batas defisit sebesar 3% dari PDB dalam jangka menengah.
Secara umum, Fitch Rating telah mengonfirmasi peringkat kredit Indonesia untuk utang luar negeri jangka panjang (Long-Term Foreign-Currency Issuer Default Rating/IDR) tetap berada pada level 'BBB'. Peringkat 'BBB' menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki kemampuan yang cukup baik untuk memenuhi kewajiban utangnya dalam mata uang asing, meskipun terdapat risiko-risiko tertentu.
Dalam paprannya disebutkan peringkat 'BBB' Indonesia mencerminkan prospek pertumbuhan jangka menengah yang menguntungkan serta rasio utang pemerintah terhadap PDB yang rendah. Namun, peringkat ini dibatasi oleh penerimaan pendapatan pemerintah yang lemah serta indikator struktural yang tertinggal, seperti PDB per kapita dan tata kelola dibandingkan dengan negara-negara lain dalam kategori 'BBB'.
Berikutnya Fitch memproyeksikan PDB riil Indonesia akan tumbuh sebesar 5,0% pada 2025, mempertahankan momentumnya dari 2024 dan melampaui banyak negara lain dalam kategori 'BBB' (median: 3,3%). Permintaan domestik yang kuat, didukung oleh belanja pemerintah untuk bantuan sosial dan proyek infrastruktur, akan menjadi pendorong utama pertumbuhan. Investasi swasta diperkirakan tetap kuat, didorong oleh pelonggaran kebijakan moneter yang moderat, berkurangnya ketidakpastian kebijakan pasca-pemilu, serta kelanjutan kegiatan hilirisasi.
Di sisi lain Fitch memprediksi akan terjadi penurunan secara moderat utang pemerintah menjadi 39,1% dari PDB pada tahun 2028 mendatang, atau menyusut dari porsi 40,4% di tahun 2025 (median BBB: 58,0%).
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut angka proyeksi Fitch tersebut masih sesuai dengan target pemerintah.
“Itu kan masih dalam range di bawah 3% dan itu 40%. By law-nya kita kan 60%, tetapi pemerintah komitmen di bawah 40%” ujar Airlangga, di kantornya, Rabu (12/3/2025).

