Trumponomics Dorong Dolar Terdepresiasi, Siapkan Kebijakan Ekonomi Plan B
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - “I alone can fix it,” Donald Trump sesumbar pada tahun 2016, ketika menerima nominasi presiden dari Partai Republik. Apa yang akan diperbaikinya sebenarnya?
Di antara bejibun masalah, masalah utama AS adalah persoalan ekonomi. Tahun lalu, Trump sekali lagi berkampanye dengan premis bahwa perekonomian AS sedang “dalam krisis” dan “bencana.” Dia pun memulai masa jabatan presiden keduanya dengan janji serius untuk mengantarkan “zaman keemasan bagi Amerika Serikat.”
Namun, diagnosis suram Donald Trump terhadap perekonomian AS sebenarnya tidak didasarkan pada fakta, atau setidaknya belum ada. “Indeks kesengsaraan” Amerika Serikat– yang merupakan kombinasi dari tingkat pengangguran dan inflasi – sama sekali tidak menunjukkan bahwa perekonomian AS berada dalam kondisi yang buruk.
Tingkat penganggurannya sebesar 7,0% pada bulan Januari 2025, turun drastis dari puncak pascapandemi Covid-19 sebesar 12,7% pertengahan tahun 2022, dan lebih dari dua poin persentase di bawah rata-rata pascaperang sebesar 9,2%. Faktanya, angka terbaru ini hampir sama dengan rata-rata 6,9% yang tercatat pada pemerintahan pertama Trump (2017-2020), yang ia sebut sebagai “perekonomian terbesar dalam sejarah dunia.”
Baca Juga
Pertumbuhan Ekonomi Turun, Industri Tolak Cukai Minuman Berpemanis
Rencana Baru Lebih Mengkhawatirkan
Retorika kampanye itu adalah satu hal; bertindak berdasarkan hal tersebut merupakan hal yang berbeda, terutama jika premis intinya salah. Risikonya adalah kegilaan kebijakan awal Trump 2.0 – sekitar 73 perintah eksekutif pada bulan pertama pemerintahannya – dapat memicu krisis yang ia telah bayangkan sedang terjadi.
Dampak inflasi dari penaikan tarif impor negara adidaya itu adalah salah satu contohnya. Di sini, saya melihat rencana tarif “timbal balik” Trump yang baru lebih mengkhawatirkan dibandingkan target kenaikan tarif bilateral.
Rencana baru ini mencerminkan keyakinan Trump bahwa seluruh dunia harus mengikuti 'model' Amerika Serikat, dan Trump akan menggunakan tarif sebagai alat untuk mewujudkan hal tersebut. Hal ini tidak hanya berlaku pada perdagangan lintasnegara, namun juga pada kebijakan industri, pajak pertambahan nilai dan pajak layanan digital, manipulasi mata uang, serta hambatan struktural lainnya terhadap akses pasar luar negeri.
Baca Juga
Rencana Trump tidak hanya bertentangan dengan efisiensi rantai pasokan yang sudah mapan, namun juga bertentangan dengan delapan putaran pengurangan tarif timbal balik setelah Amerika Serikat memberlakukan Undang-Undang Perjanjian Perdagangan Timbal Balik tahun 1934. Apakah pemerintahan Trump, yang sangat menekankan prinsip timbal balik, sebenarnya tidak menyadari hal ini?
Tim Trump juga tidak mengakui potensi inflasi dari tindakan-tindakan ini, dengan menunjuk pada kurangnya dampak inflasi dari tarif pada tahun 2018-2019. Ini adalah perbandingan yang salah: tarif timbal balik ditujukan kepada semua mitra dagang utama Amerika, bukan hanya Tiongkok, seperti yang terjadi pada saat itu.
Selain itu, kebijakan ini diusulkan pada periode ketika inflasi inti (Indeks Harga Konsumen tidak termasuk harga pangan dan energi) sebesar 3,3%, jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%. Sebaliknya, rata-rata inflasi Consumer Price Index (CPI) inti mendekati target The Fed pada pemerintahan pertama Trump.
Baca JugaPasar Asia Pasifik Mayoritas Dibuka Menguat, Beda Arah dengan Wall Street
Yang membuat Trump sangat tidak senang adalah bahwa bank sentral yang menargetkan inflasi 2% kemungkinan akan berhati-hati dalam memangkas suku bunga kebijakannya, ketika menghadapi kenaikan harga akibat penaikan tarif. Masyarakat Amerika juga kini tampaknya bersiap menghadapi harga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lama.
Survei terbaru Universitas Michigan menunjukkan bahwa konsumen memperkirakan inflasi akan mencapai 3,5% selama lima hingga sepuluh tahun ke depan. Ini angka tertinggi sejak 1995.
Spekulasi Berlebihan Kecerdasan Buatan
Kekhawatiran lainnya adalah kebijakan Trump akan mematahkan penolakan yang tertanam di pasar keuangan. Pasar saham AS sedang terpuruk, sebagian besar disebabkan oleh spekulasi berlebihan mengenai kecerdasan buatan.
Menurut Bloomberg, “Magnificent Seven” – raksasa teknologi Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Microsoft, Nvidia, dan Tesla –, semuanya telah menggelontorkan miliaran dolar AS untuk pengembangan dan infrastruktur Artificial intelligence (AI). Ini meningkat 3,2 kali lipat dari akhir tahun 2022. Bloomberg menghitung kelompok ini memiliki rasio harga terhadap pendapatan sebesar 32,9 kali, hampir 40% lebih tinggi dari rata-rata rasio PE (price to earnings ratio) perusahaan kapitalisasi besar lainnya.
Selain itu, pada Desember 2024, Magnificent Seven menyumbang 34% dari total kapitalisasi pasar S&P 500, hampir enam kali lipat pangsa kapitalisasi pasar sektor internet sebelum berakhirnya gelembung dotcom pada Maret 2000. Aksi jual lantaran DeepSeek terjadi pada akhir bulan Januari.
Publik dikejutkan dengan fakta spektakuler DeepSeek. Mereka dihebohkan dengan pengungkapan mengejutkan bahwa sebuah startup di Tiongkok telah menciptakan model bahasa besar yang setara dengan perusahaan AI Amerika dengan biaya yang lebih murah, dan menggarisbawahi fokus ini. Meskipun AI mungkin mewakili terobosan teknologi yang revolusioner, mungkin hanya masalah waktu sebelum gelembung spekulatif ini pecah.
Potensi Koreksi Dolar Tajam
Hal penting lain, kemungkinan besar akan terjadi koreksi dolar yang tajam. Dengan perkembangan indeks dolar– nilai tukar efektif riil yang dihitung oleh Bank for International Settlements – sempat melonjak ke rekor tertinggi, kekhawatiran akan depresiasi dolar semakin nyata.
Defisit neraca berjalan Amerika yang besar dan kekurangan tabungan domestik saat ini jauh lebih buruk dibandingkan pada pertengahan tahun 2020. Selin itu, ada kenaikan suku bunga terbatas setelah normalisasi baru-baru ini dan runtuhnya gelembung ekuitas yang didorong oleh AI dapat menyebabkan penularan lintas-aset.
Eksepsionalisme Amerika Serikat, yang merupakan pilar dominasi greenback, mungkin juga berisiko. Atribut-atribut utama soft-power yang telah lama dikaitkan dengan kepemimpinan global AS – moralitas, karakter, kepatuhan terhadap supremasi hukum, dan komitmen teguh terhadap aliansi – mulai melemah, seiring dengan semakin ketatnya cengkeraman Make America Great Again (MAGA) dalam Trumponomics.
Masyarakat Amerika Serikat yang terpolarisasi tak henti-hentinya memperdebatkan apakah Trumpisme mampu mengubah nasip ekonomi AS ke depan. Harapan MAGA adalah bahwa pembuat kesepakatan yang cerdas pada akhirnya akan menang, sehingga AS mampu memenangkan berbagai konsesi besar dengan menindas musuh asingnya.
Namun, di zaman yang penuh buih seperti sekarang ini, hal itu mungkin bukan pilihan yang bijaksana. Pada akhirnya, Amerika Serikat most likely akan mengalami krisis ekonomi dan keuangan seperti yang diklaim oleh Donald Trump, sebagai sebuah kebijakan yang salah. Dan, Indeks Kesengsaraan AS pada akhirnya akan sesuai dengan namanya.
Mencermati perkembangan implementasi Trumponomics tersebut, kita harus waspada terhadap arah perekonomian global ke depan. Yang jelas, ke depan dolar AS akan semakin melemah, inflasi AS semakin meningkat, begitu pula inflasi global yang disertai dengan kenaikan tingkat suku bunga global.
Sehingga, pasar modal di ekonomi terbesar itu akan mengalami masa-masa yang sulit, yang berpotensi menular ke pasar modal global. Oleh karenanya, pemangku kebijakan ekonomi dari berbagai lini -- baik moneter maupun fiskal dan industri -- harus menyiapakan plan B terhadap setiap skenario ekonomi yang akan dihadapi di era yang penuh ketidakpastian ini.
Jakarta, 3 Maret 2025

