Dampak Keuangan Global akibat The Fed Takut Trump
Oleh Tri Winarno,
mantan Ekonom Senior
Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter
Bank Indonesia
INVESTORTRUST.ID - Donald Trump kembali ke Gedung Putih, para teknokrat segera mencari perlindungan. Trump telah memperjelas keinginan untuk membongkar 'deep state' -- yang ia gambarkan sebagai jaringan bayangan birokrat yang mempersenjatai kekuatan negara untuk menganiaya lawan politik -- dan menggagalkan agenda mereka.
Namun, para pejabat profesional, administrator, dan pembuat kebijakan yang akan menjadi sasaran Trump memainkan peran penting dalam pemerintahan Amerika Serikat. Ini termasuk dengan memberi nasihat kepada para pemimpin, terlepas dari kecenderungan politik mereka, tentang bagaimana dapat mencapai tujuan secara legal dan konstitusional. Para pejabat ini harus mempertahankan pendiriannya.
Sementara itu, Federal Reserve mungkin merupakan aktor ekonomi independen paling signifikan di Amerika Serikat, mengingat cakupan tanggung jawab moneter dan pengawasan serta pentingnya dolar AS secara global. Sayangnya, alih-alih bersiap untuk mempertahankan posisi dan hak prerogatifnya, mereka malah menyerah kepada Trump. Pada tanggal 17 Januari, tiga hari sebelum pelantikan Trump sebagai presiden periode keduanya, Dewan The Fed telah menarik diri dari Jaringan untuk Penghijauan Sistem Keuangan (Network for Greening the Financial System/NGFS).
NGFS ini mempertemukan bank sentral dan pengawas untuk meningkatkan manajemen risiko lingkungan dan iklim di sektor keuangan. Partisipasi dalam kelompok tersebut merupakan pengakuan akan pentingnya memahami risiko iklim, serta pengakuan implisit bahwa risiko-risiko ini termasuk dalam mandat bank sentral, karena mengancam stabilitas ekonomi dan keuangan.
Ini bukanlah posisi yang radikal. Semua bank sentral utama terwakili di antara 143 anggota NGFS, yakni Bank of England (BOE), Banque de France, Bank of Japan, European Central Bank (ECB), dan People’s Bank of China (PBOC). Hingga penarikan diri The Fed, NGFS mencakup 100% bank sistemik global dan 80% grup asuransi yang aktif secara internasional. Namun, The Fed kini memutuskan hubungan dengan rekan-rekannya dan bersiap untuk keluar, dengan alasan bahwa ruang lingkup NGFS melampaui mandatnya.
Bencana Dipicu Perubahan Iklim
Padahal, gagasan bahwa bank sentral tidak seharusnya memperhitungkan meningkatnya risiko perubahan iklim jelas salah. Stabilitas ekonomi dan keuangan bergantung pada stabilitas ekosistem dan iklim.
Dengan terus meningkatnya emisi gas rumah kaca, tingkat karbon dioksida di atmosfer telah mencapai rekor tertinggi. Suhu global diperkirakan akan meningkat melampaui 1,5°C, dibandingkan suhu pada masa pra-industri. Dampak perubahan iklim – badai, banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan yang lebih sering dan intens – sudah terlihat jelas.
Meski perkiraan mengenai biaya ekonomi dan keuangan bervariasi, gambaran keseluruhannya cukup menyedihkan. Institut dan fakultas aktuaris memperkirakan bahwa perubahan iklim akan menyebabkan hilangnya produk domestik bruto (PDB) global sebesar 50% antara tahun 2070-2090.
Lebih suka perkiraan yang lebih rendah? Swiss Re memperkirakan kerugian PDB sebesar 18% pada tahun 2050, jika tidak ada tindakan yang diambil.
Apa pun perkiraan yang Anda pilih, tidak ada keraguan bahwa dampak perubahan iklim terus meningkat – dan tidak dalam kecepatan yang stabil. Biaya pun meningkat secara bertahap, kemudian secara tajam, yang disebabkan oleh bencana terkait iklim.
Suatu kebetulan yang suram dan ironis, penarikan diri The Fed dari NGFS terjadi pada saat California mengalami bencana ini secara langsung, ketika kebakaran hutan mengubah ribuan rumah, tempat usaha, dan ekosistem menjadi abu.
Risiko Mikroprudensial Jelas
Risiko mikroprudensial sudah jelas terlihat. Bangunan-bangunan yang terbakar di California itu sebagian besar sedang dalam hipotek. Namun, asuransi tidak mungkin mampu menanggung seluruh biaya pembangunan kembali, bahkan bagi mereka yang memiliki asuransi. Belum lagi, banyak pemilik properti tidak memiliki asuransi.
Mereka tidak memiliki asuransi, karena meningkatnya risiko akibat bencana yang dipicu oleh perubahan iklim telah menaikkan harga properti dan menyebabkan beberapa perusahaan asuransi menolak memberikan asuransi. Jika properti yang hancur tidak dibangun kembali, hipotek terkait tidak akan dilunasi, dan bank-bank lokal maupun nasional yang mengeluarkan pinjaman akan menderita kerugian besar.
Risiko itu tidak dapat diabaikan begitu saja sebagai sebuah kebenaran politik yang bersifat merendahkan. Sebaliknya, mengingat potensinya untuk mengganggu stabilitas sistem keuangan, hal ini jelas membutuhkan perhatian para bankir sentral.
Itulah sebabnya BOE dan ECB melakukan stress-testing terhadap perusahaan, bank, dan perusahaan asuransi yang diawasi untuk mengetahui risiko iklim, serta menerapkan standar untuk pengungkapan, metodologi, proses, dan tata kelola perubahan iklim. PBOC, pada bagiannya, memasukkan perubahan iklim ke dalam regulasi dan pengawasan keuangan, plus mengembangkan aturan pinjaman ramah lingkungan.
Namun The Fed – bank sentral terpenting di dunia – mempunyai rencana lain. Dengan menarik diri dari NGFS dan mengabaikan skenario dan analisis risiko iklim, mereka secara efektif mengumumkan bahwa mereka berencana menutup mata dan telinga terhadap bahaya krisis iklim. Hal ini meningkatkan kemungkinan kegagalan sistemik di masa depan, karena pejabat The Fed cenderung tidak mendeteksi risiko yang terjadi di depan mata pengawas bank mereka, baik di California, Louisiana, Florida, atau Texas.
Kepemimpinan The Fed terus-menerus menekankan pentingnya “ketergantungan data". Namun, bank sentral telah memutuskan untuk mengabaikan tumpukan data yang sangat besar – dan berkembang pesat – yang menunjukkan bahwa risiko iklim adalah risiko ekonomi, demi menenangkan presiden yang mungkin tidak mengetahui keberadaan NGFS.
Padahal, Dewan The Fed bisa saja mempertahankan keanggotaannya di NGFS dan menunggu waktunya. Tidak ada alasan untuk melompat sebelum didorong.
Namun The Fed menjadi ketakutan. Penarikan diri dari NGFS menunjukkan bahwa pengambilan keputusannya setidaknya sebagian mencerminkan tekanan politik, bukan analisis independen dan berbasis data. Hal ini bukan pertanda baik untuk empat tahun ke depan dan seterusnya.
Mencermati perkembangan di AS setelah terpilihnya kembali Presiden Trump, wajar kalau The Fed takut kepada Trump. Karena Trump presiden dan The Fed sudah selayaknya di bawah kendali presiden; maka wajar jika Bank Sentral ketakutan.
Yang tidak wajar adalah jika presiden tidak punya wibawa, apalagi di hadapan bank sentralnya atau institusi maupun perorangan yang seharusnya di bawah kendalinya, siapa pun mereka, sekuat apa pun mereka. Karena itu wibawa presiden harus tegak, yang korupsi harus diseret ke pengadilan untuk menimbulkan efek jera. Sekali lagi, presiden tidak boleh takut pada bawahannya, apalagi pada pensiunan.
Banyuwangi, 7 Februari 2025

