Yield SRBI Turun di Bawah SBN Sesuai Janji Perry, Lalu?
JAKARTA, investortrust.id - Sesuai janji Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, yield instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akhirnya turun di bawah Surat Berharga Negara (SBN), yang diterbitkan pemerintah RI. Janji Perry tersebut disampaikan seusai sejumlah kalangan mengkritisi tingginya imbal hasil SRBI berdampak menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan data yang diolah Riset Investortrust.id, turunnya yield SRBI di bawah SBN ini belum lama terjadi. Setelah SRBI diluncurkan pada 2023, imbal hasil untuk yang tenor 1 tahun trennya terus menguat hingga mencapai puncaknya menembus 7,53% tanggal 28 Juni 2024, jauh melampaui SBN dengan tenor yang sama sebesar 6,64%.
Baca Juga
Coretax DJP Bermasalah, DPR: Gunakan Sistem Lama, WP Jangan Sampai Kena Sanksi
Setelah berfluktuasi, yield SRBI sempat kembali mencapai puncak 7,53% tanggal 3 Juli 2024. Saat itu, imbal hasil SBN juga maih jauh di bawah yakni sebesar 6,71%.
Berikutnya, imbal hasil SRBI trennya menurun, namun masih di atas SBN hingga akhir tahun lalu. Setelah memasuki tahun baru 2025, pada 24 Januari, yield SRBI barulah turun ke 6,84%, di bawah SBN yang 7,08%.
Yield SRBI terus bergerak turun ke 6,57% pada 7 Februari 2025. Ini di bawah imbal hasil SBN yang masih lebih tinggi yakni 6,67%.
| Sesuai janji Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, yield instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akhirnya turun di bawah Surat Berharga Negara (SBN), yang diterbitkan pemerintah RI. Infografis: Diolah Riset Investortrust.id. |
Soroti Crowding Out
Sebelumnya, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengkritisi tingginya imbal hasil SRBI maupun SBN. Hal itu dapat mendorong potensi crowding out yang menyulitkan dunia usaha mendapatkan pendanaan. Kondisi itu selanjutnya akan berdampak menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Daripada mereka (bank) memberikan kredit kepada sektor riil, (mereka ada yang cenderung) belikan saja SRBI dan SBN bunganya di atas 7%, dan zero risk. Komposisi perbankan yang membeli SBN dan SRBI yang cukup besar dapat mendorong potensi crowding out,” kata dia.
Wijayanto menyoroti kondisi perbankan yang membeli SRBI dan SBN dalam jumlah besar. Hal ini juga dapat dilihat dari porsi utang pemerintah yang melejit, yang didominasi SBN.
"Data kuartal III-2024 menunjukkan, porsi utang pemerintah didominasi SBN sebesar 87,7% atau Rp 7.483 triliun. Sementara, pinjaman hanya 12,3% atau Rp 1.046 triliun, padahal dulu (porsinya) kira-kira 50%-50%. Utang dari SBN itu mudah. Kalau pinjaman, kita harus menulis proposal, harus lobi. Ada pengawasan dari donor,” ujar dia.
SBN Diburu
Sementara itu, berdasarkan data terbaru Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) pada 6 Februari, investor asing berbalik arah memburu SBN. Hal ini terlihat pada transaksi non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan, yang mencatatkan pembelian neto jumbo Rp 9,5 triliun.
Hal ini membalikkan keadaan, sehingga secara month to date, asing mencatatkan pembelian bersih SBN rupiah yang dapat diperdagangkan Rp 6,08 triliun hingga Kamis lalu. Sedangkan secara year to date, akumulasi beli neto naik mencapai Rp 10,73 triliun hingga Kamis lalu.
Namun, di pasar saham, asing masih mencatakan net sell sebesar Rp 0,92 dalam perdagangan di BEI Senin (10/02/2025). Hal ini menambah akumulasi penjualan bersih month to date menjadi Rp 4,73 triliun dan akumulasi year to date mencapai Rp 8,44 triliun.

