Rupiah Ditutup Melemah usai Libur Panjang
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan valas antarbank Kamis (30/01/2025), usai libur panjang di Indonesia. Jisdor Bank Indonesia mencatat, dalam penutupan perdagangan sore hari ini, kurs rupiah melemah 59 poin (0,36%) ke level Rp 16.259 per dolar AS.
Dari pasar spot valas, Yahoo Finance merilis mata uang Garuda bergerak melemah 86 poin (0,53%) ke level Rp 16.255 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, kurs rupiah berada di level Rp 16.169 per dolar AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, investor tengah mencerna sedikit sentimen hawkish dari pertemuan Federal Reserve AS. Bank Sentral negeri adidaya itu tidak mengubah suku bunga seperti yang diharapkan secara luas, dan memberikan sedikit petunjuk tentang pengurangan lebih lanjut dalam biaya pinjaman tahun ini.
"Pejabat The Fed membuat keputusan bulat mempertahankan suku bunga semalam dalam kisaran 4,25%-4,50%, yang menempatkan Bank Sentral dalam pola menahan sementara menunggu inflasi lebih lanjut dan data pekerjaan serta kejelasan dampak kebijakan Presiden AS Donald Trump. Kekhawatiran peningkatan tarif dan sikap hawkish The Fed memicu sentimen risk-off. Pejabat The Fed menekankan komitmen mereka untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, sampai mereka memperoleh lebih banyak keyakinan bahwa inflasi bergerak secara berkelanjutan menuju target The Fed sebesar 2%," katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis (30/01/2025).
Baca Juga
Indonesia Kuat, Menggandeng India dan Membangun Rantai Pasok Melayu
Mata Uang Asia Tertekan
Selain suku bunga AS yang lebih tinggi untuk jangka panjang dan prospek dolar yang lebih kuat, lanjut Ibrahim, mata uang Asia menghadapi tekanan dari ketidakpastian kebijakan tarif Trump. Trump diperkirakan akan menerapkan tarif baru 25% pada impor dari Kanada dan Meksiko mulai Sabtu ini, dengan potensi tarif tambahan pada barang-barang Cina.
Howard Lutnick, CEO miliarder Wall Street dan calon Trump untuk mengepalai Departemen Perdagangan AS, mengatakan pada sidang konfirmasi Senat AS pada Rabu bahwa ia telah menyarankan presiden untuk mengejar tarif menyeluruh dari satu negara ke negara lain. Hal ini untuk memulihkan 'timbal balik' dalam hubungan perdagangan Amerika.
Baca Juga

