India, Indonesia, dan Cina: Pusat Dunia Masa Depan
Oleh Teguh Anantawikrama,
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Teknologi dan Transformasi Digital
serta Pendiri Indonesian Tourism Investors Club (ITIC)
INVESTORTRUST.ID - Lanskap ekonomi dunia sedang mengalami transformasi besar. Kawasan Indo-Pasifik, yang merupakan rumah bagi beberapa perekonomian paling dinamis di dunia, kini muncul sebagai titik fokus perdagangan, inovasi, dan pembangunan. Di antara para pemain kunci di kawasan ini, India, Indonesia, dan Cina merupakan kekuatan ekonomi yang bersama-sama dapat membentuk hub global berikutnya.
Artikel ini mengeksplorasi mengapa saya yakin sinergi ketiga negara tersebut mempunyai potensi untuk mendefinisikan kembali perekonomian global. Hal ini didukung oleh tren perdagangan terkini, perjanjian strategis, dan peluang kolaboratif.
Baca Juga
Ketum Kadin Anindya Bakrie Serahkan Hasil CEO Forum India-RI kepada Prabowo
Ketiga kekuatan ekonomi Asia ini memiliki keunggulan, peluang, dan tantangan masing-masing.
India: Raksasa Digital dan Demografis
Kebangkitan India sebagai negara adidaya ekonomi didorong oleh populasi generasi mudanya, pertumbuhan ekonomi digital, dan sektor manufaktur yang berkembang pesat. Pada tahun 2030, India siap menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia, memanfaatkan kekuatannya dalam teknologi, farmasi, dan energi terbarukan.
Komitmen terhadap “Make in India” dan kepemimpinannya dalam infrastruktur publik digital menjadikannya pemain penting di pusat dunia di masa depan.
Indonesia: Pintu Gerbang Indo-Pasifik
Indonesia merupakan pintu gerbang menuju Indo-Pasifik. Dengan letaknya yang strategis di antara Samudera Hindia dan Pasifik, Indonesia berfungsi sebagai jembatan antara Asia dan seluruh dunia.
Negara kita tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga merupakan penghubung penting dalam rantai pasokan global. Dengan investasi pada energi terbarukan, logistik, dan pariwisata, Indonesia siap menjadi pusat perdagangan global.
Lokasi kita yang strategis dan pertumbuhan ekonominya menjadikan Indonesia mitra alami bagi India maupun Tiongkok.
Tiongkok: Pemimpin Manufaktur dan Inovasi
Sedangkan posisi Tiongkok penting sebagai eksportir terbesar di dunia. Negeri Tirai Bambu ini juga berkomitmen terhadap inovasi teknologi, melalui inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI), yang terus memperkuat dominasi globalnya.
| Perdagangan Indonesia dengan 20 negara mitra yang mencatatkan defisit. Cina penyumbang terbesar defisit neraca perdagangan Indonesia. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Terlepas dari tantangan geopolitik, investasi Tiongkok di bidang infrastruktur dan manufaktur memberikan tulang punggung penting bagi blok ekonomi masa depan bersama India dan Indonesia.
Tren Perdagangan Global Dukung Kolaborasi
Sementara itu, lingkungan perdagangan global sedang berubah. Menurut UNCTAD, perdagangan global mencapai rekor US$ 33 triliun pada tahun 2024, dengan peningkatan signifikan dalam perdagangan jasa, yang tumbuh sebesar 7%.
Asia berada di garis depan dalam pertumbuhan ini. Antara tahun 2017-2023, perdagangan barang global tumbuh sebesar 5% per tahun, dengan Tiongkok dan India melampaui rata-rata tersebut, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 7%.
Indonesia, sebagai bagian dari ASEAN, mencatat pertumbuhan sebesar 6% pada periode yang sama.
Baca Juga
Prabowo Siap Akselerasi Kerja Sama Segala Bidang dengan India
Perdagangan bilateral antara India, Indonesia, dan Tiongkok juga berkembang pesat. Pada tahun 2022, perdagangan antara Tiongkok dan Indonesia mencapai US$ 71,3 miliar, sementara antara Tiongkok dan India mencapai rekor baru perdagangan bilateral menembus US$ 136,2 miliar pada tahun 2023. Angka-angka ini menyoroti potensi kolaborasi dan integrasi ekonomi yang lebih dalam.
Perjanjian Baru Perdalam Ikatan
Perjanjian yang diteken baru-baru ini menandakan ikatan yang lebih dalam di antara ketiga negara tersebut. Pada tanggal 25 Januari 2025, Indonesia dan India menandatangani perjanjian penting yang mencakup kebudayaan, kesehatan, keamanan maritim, dan ekonomi digital.
Hal ini menggarisbawahi kesediaan negara kita untuk bekerja sama mengatasi tantangan bersama. Di sisi lain, juga memanfaatkan peluang yang muncul.
Baca Juga
Prabowo: Saya Belajar Banyak dari PM Modi soal Pengentasan Kemiskinan
Perjanjian-perjanjian baru itu selaras dengan upaya berkelanjutan Tiongkok melalui BRI untuk meningkatkan konektivitas dan perdagangan. Dengan menyelaraskan inisiatif-inisiatif yang ada, kita dapat menciptakan blok ekonomi yang kuat dan memanfaatkan kekuatan masing-masing negara untuk saling melengkapi.
Peluang dan Tantangan
Meski prospeknya menjanjikan, kita juga harus mengatasi tantangan seperti ketidakseimbangan perdagangan, kesenjangan infrastruktur, dan ketegangan geopolitik. Surplus perdagangan Tiongkok, misalnya, mencapai hampir US$ 1 triliun pada tahun 2024, yang menyebabkan ada tindakan proteksionis di beberapa pasar.
Pada saat yang sama, Indonesia dan India harus mempercepat upaya modernisasi infrastruktur dan meningkatkan kemudahan berusaha.
Namun, saya yakin tantangan-tantangan ini dapat dikelola menjadi peluang untuk kolaborasi yang lebih mendalam. Dengan berinvestasi pada proyek infrastruktur bersama, menyelaraskan kebijakan perdagangan, dan mendorong inovasi, kita dapat membangun blok ekonomi yang tangguh.
Visi Bersama Masa Depan
Dengan meningkatlan kolaborasi, kita bisa mewujudkan visi bersama untuk masa depan. India, Indonesia, dan Tiongkok akan mewakili detak jantung perekonomian Asia. Bersama-sama, kita memiliki sumber daya, bakat, dan posisi strategis untuk menciptakan pusat dunia yang mendorong perdagangan, inovasi, dan pertumbuhan global.
Kolaborasi kita juga harus melampaui bidang ekonomi. Dengan mendorong pertukaran budaya, berinvestasi pada pembangunan berkelanjutan, dan merangkul inklusivitas, kita tidak hanya dapat membentuk masa depan Asia, namun juga masa depan dunia.
Sebagai warga Indonesia yang bangga, saya yakin kemitraan kita dengan India dan Tiongkok akan menjadi landasan perekonomian global abad ke-21. Sekaranglah waktunya untuk bertindak! (pd)

