JFX Optimistis Program Hilirisasi Bisa Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 8%
JAKARTA, investortrust.id - Bursa berjangka Jakarta atau Jakarta Futures Exchange (JFX) mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia 8% yang ditetapkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Direktur Utama JFX Stephanus Paulus Lumintang mengatakan, JFX menyambut baik adanya program yang dicanangkan pemerintahan saat ini yakni percepatan hilirisasi. Pasalnya, program tersebut secara tidak langsung dapat membantu percepatan pencapaian pertumbuhan ekonomi 8%.
"Karena pada saat tercapai sebuah hilirisasi, baik itu dari segi mining resources, pertambangan dan segi agrikultur, ini akan sangat membantu masyarakat, penghasil pekebunan, penambang maupun dari para pelaku manufacturing yang ada di Indonesia," kata Stephanus dalam wawancara bersama investortrust.id di Kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (13/11/2024).
Lantaran kata Stephanus, dengan adanya program hilirisasi maka perputaran ekonomi tidak lari ke luar negeri namun berada di dalam negeri, baik dari hulu hingga hilir. Yang mana, hal ini akan berdampak positif dari sisi peluang lapangan pekerjaan, peluang investasi, dan penghasilan produksi.
"Sehingga kita bisa menghasilkan barang akhir yang bisa mendapatkan multiple effect yang lebih besar, dibanding kita hanya mengekspor bahan baku (raw material) ke luar negeri. Tentunya dari devisa negara akan berpotensi untuk bertambah dan juga harga akan terkontrol di dalam negeri," terang Stephanus.
Baca Juga
Menurutnya, hal itu sudah menghasilkan penambahan nilai yang berbeda dibandingkan saat Indonesia hanya mengekspor bahan bakunya saja. Selain itu, sebagai bursa komoditas, JFX juga turut berkontribusi menjadi penghasil utama yakni minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO), timah, nikel dan batu bara.
“Dengan adanya proses hulu hingga hilir, tentunya ini akan membantu para pelaku, baik dari segi hulu maupun sampai di hilir, itu bisa melakukan hedging atau lindung nilai. Tidak ke luar negeri, bisa melakukan itu di dalam negeri melalui salah satunya Bursa Berjangka Jakarta untuk tercapainya sebuah pembentukan harga (price discovery),” ucap Stephanus.
Baca Juga
Perkenalkan Perdagangan Berjangka Komoditi, JFX dan Finex Gelar Literasi di Universitas Esa Unggul
Lebih lanjut, dia menambahkan, terkait terciptanya price discovery jika dilihat dari kepentingan pelaku, individu maupun korporasi mereka akan melakukan lindung nilai (price hedging).
"Dari segi produsen, mereka memikirkan bagaimana overhead cost tercipta saat melakukan panen atau hasil tambang, itu lebih mudah diukur untuk menghitung harga pasar (price equilibrium) untuk mencapai profit yang telah ditetapkan baik individu maupun korporasi," jelas dia.
Sementara itu, jika dilihat secara perdagangan berjangka terkait price discovery, Stephanus mengungkapkan sektor hulu ke hilir yang paling banyak membutuhkan.
"Seperti dari produksi ke distributor, kemudian dari distributor ke agen lanjut dari agen ke sub agen dan lain-lain sampai ke end user. Nah, ini mata rantainya ini yang lebih panjang dibanding dengan pelaku hulu, ini yang justru sangat membutuhkan. Sehingga kami yakin akan punya kontribusi di dua sektor (hulu dan hilir)," ujar Stephanus.

