Ekonomi Syariah Dapat Jadi Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi Indonesia ke 8%
JAKARTA, investortrust.id - Penasehat Center for Sharia Economic Development Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Hakam Naja mengatakan pengembangan ekonomi syariah dapat menjadi salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi Indonesia ke 8%.
“Ekonomi syariah merupakan masa depan Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% pada 2028,” kata Hakam saat diskusi publik Outlook Ekonomi Syariah 2025 yang digelar Indef secara daring, Jumat (27/12/2024).
Baca Juga
Ekonom Indef: Industri Perbankan Syariah Indonesia Masih Tertinggal dari Malaysia
Hakam mengatakan sebagai salah satu kunci pengungkit ekonomi ke depan, ekonomi syariah dapat diarahkan untuk pengembangan ekonomi. Salah satunya, melalui pembiayaan untuk UMKM.
Ini karena UMKM berkontribusi terhadap 60,51% PDB nasional dan 97% penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Dia mencatat tenaga kerja yang diserap UMKM mencapai 140 juta orang.
“Jadi memang, ini kalau diperhatikan ekonomi akan tumbuh. (Perekonomian) masyarakat akan hidup, otomatis akan bertumbuhlah ekonomi,” ujar dia.
Dia menegaskan berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pembiayaan perbankan syariah mencapai 17,7% per September 2024. Untuk itu, perlu didorong peningkatan porsi pembiayaan UMKM sampai 30% pada 2025.
Selain itu, yang tidak kalah penting, yaitu hilirisasi di sektor perbankan syariah dalam bentuk bullion bank. Dia mengatakan bullion bank dapat menjadi pintu keluar mandeknya perbankan syariah.
Baca Juga
“Karena perbankan syariah merupakan bisnis yang menjanjikan, bisa dengan memanfaatkan perbankan bank emas untuk menciptakan ekosistem hulu ke hilir,” kata dia.
Meski begitu, Hakam mengingatkan adanya tantangan dalam pengembangan ekonomi syariah ke depan. Salah satunya, yaitu kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12%.
“Ini diperkirakan menaikkan inflasi dan (mempengaruhi) daya beli masyarakat. Kita dorong pemerintah mencari solusi agar daya belinya tidak turun,” ujar dia.

