Defisit APBN 2023 Rp 347,6 Triliun, Terendah Sejak 2011
JAKARTA, Investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyebut defisit APBN 2023 jauh lebih rendah dari target defisit. Defisit APBN 2023 tercatat Rp 347,6 triliun atau lebih kecil dari target yaitu Rp 479,9 triliun.
“Realisasi defisit kita jauh lebih kecil yaitu Rp 347,6 triliun. Bahkan hampir dari setengah desain original,” kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Kinerja dan Realisasi APBN 2023, di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (2/1/2024).
Desain asli APBN 2023 menargetkan defisit di angka Rp 598,2 triliun atau 2,84% dari PDB. Dalam realisasinya, defisit menyentuh 1,65% dari PDB.
Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan, Isa Rachmatarwata mengatakan defisit ini merupakan yang terendah sejak 2011. Pada tahun tersebut, defisit APBN menyentuh nominal Rp 84,4 triliun atau 1,14% dari PDB.
“Yang terendah pada 2011 sebesar 1,14% (dari PDB)” kata Isa.
Isa mengatakan defisit yang terjaga bukan disebabkan pemerintah menahan belanja APBN. Ini terbukti dari nilai realisasi belanja APBN 2023 justru mengalami kenaikan dari tahun lalu.
Pada 2023, realisasi belanja APBN menyentuh Rp 3.121,9 triliun atau menembus target APBN yang sebesar Rp 3.117,2 triliun. Besaran realisasi belanja juga naik 0,8% dari realisasi 2022 dengan nominal Rp 3.081,2 triliun.
“Enggak ada belanja yang ditahan,” kata dia.
Defisit yang rendah terjadi karena penerimaan negara yang melebihi target sebesar Rp 2.774,3 triliun atau 105,2% dari target APBN 2023 revisi. “Penerimaan kita jauh lebih tinggi 5%” ujar dia.
Selain defisit, keseimbangan primer APBN 2023 juga mengalami surplus. Catatan istimewa ini menjadi yang pertama kali terjadi sejak 2012.
Keseimbangan primer pada 2023 mengalami surplus Rp 92,2 triliun. Keseimbangan primer adalah selisih dari total pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang.
Surplus tapi Tetap Defisit?
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menekankan surplus keseimbangan primer menandai kondisi APBN yang sehat. Ini terjadi karena ekonomi nasional tumbuh.
“Ekonomi kita tumbuh dan menghasilkan penerimaan negara yang tumbuhnya juga sesuai pertumbuhan ekonomi tersebut,” kata Febrio.
Febrio mengatakan kondisi besaran bunga utang juga terus mengalami penurunan pada 2023. Ini terlihat dari suku bunga surat berharga negara (SBN) yang mencapai 6,68%. Jauh dari asumsi APBN 2023 yang mencapai 7,9%.
“Penerimaan kita tinggi untuk bisa melebihi kebutuhan belanja kita, sehingga primary balance kita menjadi positif. Salah satunya tentu dicerminkan oleh bunga utang yang memang turun,” kata dia.
Sementara itu, dari sisi imbal hasil atau yield SBN 10 tahun dalam bentuk rupiah dan valuta asing juga turun. Pada awal tahun yield SBN 10 tahun berada pada kisaran 7% sementara itu saat tutup buku nilainya 6,48%.
“Kenapa yield utang bisa rendah? Karena investor percaya. Investor global akan memilih surat utang yang lebih kredibel,” ucap dia.

