80% Tergantung Impor, Susu Sapi Peternak Dibuang karena Pabrik Kurangi Pembelian
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi buka suara merespons aksi para peternak dan pengepul yang membuang 50 ribu liter susu sapi ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Winong, Boyolali. Eks Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkomimfo) itu mengungkap sejumlah fakta mengenai kondisi industri susu sapi nasional saat ini.
Budi Arie mengatakan, impor susu ke Tanah Air memiliki angka cukup besar. Hal itu lantaran industri dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan susu nasional. Mengutip data Kementerian Perdagangan (Kemendag), dia menyebut konsumsi susu nasional tahun 2023 sebesar 4,4 juta ton. Sementara, produksi dalam negeri hanya menyentuh 837.223 ton atau sekitar 20% kebutuhan susu nasional.
"Selain untuk memenuhi pasokan kebutuhan dalam negeri, impor susu ke Indonesia sangat masif lantaran negara-negara eksportir tertentu memanfaatkan adanya pembebasan tarif bea masuk komoditas susu. Ini membuat harga produk mereka setidaknya 5% lebih rendah dari harga pengekspor susu global lainnya. Karena itu, yang harus kita lakukan adalah langkah-langkah untuk peninjauan beberapa permasalahan dan regulasi yang ada," ungkap Budi Arie dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (11/11/2024).
Baca Juga
Tidak cukup sampai di situ, Budi Arie mengungkapkan, kondisi tersebut diperparah dengan adanya praktik dari sejumlah oknum pelaku industri pengolahan susu (IPS) yang tidak mengimpor susu segar, melainkan skim atau susu bubuk. Praktik tersebut membuat peternak sapi di Indonesia mengalami kerugian harga jual, dari yang idealnya Rp 9.000 per liter, menjadi tertekan hanya Rp 7.000 per liter.
Koperasi Sumbang 71% Produksi Susu Nasional
Menkop Budi Arie menjelaskan, produsen susu nasional berhimpun dalam 59 koperasi produsen susu (anggota GKSI). Jumlah populasi sapi tahun 2023 di koperasi produsen susu sebanyak 227.615 ekor dan di peternakan sapi modern sebanyak 32.000 ekor.
"Produksi susu tahun 2023 dari koperasi produsen susu sebesar 407.000 ton (71%) dan yang dihasilkan peternakan modern 164.000 ton (29%), sehingga total produksi sebesar 571.000 ton. Rata-rata produksi harian susu pada koperasi produsen susu sebesar 9-10 liter per ekor, sedangkan pada peternakan sapi perah modern produksi hariannya minimal 25 liter per ekor," tutur Budi Arie.
Baca Juga
Populasi sapi perah sebanyak 99% berada di Pulau Jawa. Ia mencatat hanya ada 1 peternakan sapi perah dengan populasi 4.000 ekor di Sumatra Utara milik anak perusahaan salah satu IPS besar di Indonesia, dan di Sulawesi Selatan terdapat 1.000 ekor sapi perah.
Saat ini, lanjut dia, supply susu nasional yang dikelola oleh koperasi mayoritas hasil produksi susu segar koperasi produsen susu, yang kemudian disetorkan ke IPS. "Hal ini menjadikan koperasi susu sangat bergantung pada kontrak pembelian susu dari IPS. Bahkan, sejak kuartal II tahun 2023, sejumlah IPS di Jawa Timur dilaporkan mengurangi penyerapan susu dari koperasi produsen susu akibat penurunan permintaan konsumen," ujar Budi Arie.
Pembuangan Susu Sapi di Boyolali dan Pasuruan
Budi mengatakan, salah satu kasus yaitu Koperasi Setia Kawan di Pasuruan, Jawa Timur, terkendala penyaluran susu di koperasinya. Mereka mengaku IPS pada periode tertentu melakukan pemberhentian penerimaan suplai susu dari koperasi, dengan alasan sedang dilakukan pemeliharaan mesin (maintenance).
Pada periode tersebut, IPS diduga melakukan penambahan impor susu skim (SMP), karena harga susu impor dunia sedang mengalami penurunan. Pemberhentian penerimaan susu juga terjadi pada hari-hari raya di Indonesia.
Pada kondisi ini, koperasi harus menahan susu dari anggota dengan jumlah mencapai 100 ton per hari. Adapun periode pemberhentian penerimaan susu dari IPS berkisar antara 7-10 hari. "Koperasi mengalami kesulitan dalam menyalurkan susu yang sudah terkumpul per harinya, sementara koperasi tetap harus menerima setoran susu dari anggota," sebut dia.
Kasus yang sama terjadi di Kabupaten Boyolali, di mana tidak hanya koperasi yang terdampak tetapi Usaha Dagang (UD) dan perseorangan (pengepul susu). Total ada 50 ribu liter atau sekitar Rp 400 juta -- dengan asumsi harga Rp. 8.000/liter susu -- tidak terserap IPS.
Budi Arie mengungkapkan, hal ini dikarenakan kondisi para IPS sedang membatasi jumlah kuota susu dari produk lokal. Pembatasan kuota masuk susu lokal di IPS sudah terjadi sekitar dua minggu terakhir.
"Per hari, susu di Boyolali yang tidak terserap ke pabrik mencapai 30 ton," sebut Budi Arie.
Salah satu koperasi yang terdampak adalah KUD Mojosongo yang merupakan koperasi produksi susu terbesar di Kabupaten Boyolali. KUD ini memiliki anggota 4.200 orang dan yang men-supply susu segar 1.700 orang. Selain memproduksi susu segar, KUD Mojosongo memiliki unit simpan pinjam, kredit ternak, unit pakan ternak, dan warung serba ada (waserda).
"Saat ini, produksi susu segar KUD Mojosongo sebesar 161 ton/minggu yang dialokasikan ke IPS Frisian Flag sebanyak 75 ton/minggu, Freshland 45 ton/minggu, dan Diamond 30 ton/minggu," tutur dia.

