BI akan Berikan Insentif KLM ke Sektor yang Ciptakan Lapangan Kerja
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut akan memberikan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) kepada sektor yang menciptakan lapangan kerja. Langkah pemberian KLM ke sektor ini sebagai lanjutan dari dua tahap yang sebelumnya dilakukan BI.
“Kami akan geser sektor-sektornya yang menciptakan lapangan kerja,” kata Perry di Gedung BI, Jakarta, Rabu (16/10/2024).
Perry menjelaskan kebijakan counter cyclical ini muncul sejak Juni 2024. Prioritas kredit yaitu sektor-sektor dan korporasi yang terkena scaring effect. Tahap kedua, yang berjalan hingga sekarang, BI memberikan insentif KLM ke sektor-sektor yang mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Makanya banyak hilirisasi. Kemudian juga berbagai sektor perumahan. Tidak terkecuali adalah UMKM, ekonomi kreatif, (sektor) green itu terus kami berikan,” ucap dia.
Perry mengatakan kebijakan insentif KLM ke depan akan diarahkan pada sektor yang menciptakan lapangan kerja. Asumsinya, dengan pemberian insentif KLM ke sektor yang menciptakan lapangan kerja, upah pegawai akan naik.
“Pendapatan masyarakat naik, belanja naik. Ekonominya naik. Sepakat kan?” tanya dia.
Baca Juga
Perry mengatakan insentif KLM untuk sektor pencipta lapangan kerja akan mulai berlaku pada 1 Januari 2025. Saat ini, ucap dia, proses finalisasi dari aturan ini sedang digarap.
“Kisi-kisinya, sektor apa yang menyerap tenaga kerja itu sektor perdagangan, besar maupun eceran, pertanian, dan juga industri pengolahan padat karya. Itu bisa lebih dari 50% pasar tenaga kerjanya,” kata dia.
Selain itu, Perry menjelaskan sektor lain yang mendapat insentif KLM yaitu transportasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Dari tiga sektor ini, dia memproyeksikan terjadi 20% penyerapan lapangan kerja.
“Bagi bank-bank yang menyalurkan kredit pada sektor konstruksi termasuk perumahan rakyat, kan programnya pemerintah. Itu bank-bank akan diberikan insentif KLM,” ucap dia.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung menjelaskan keseluruhan pertumbuhan kredit pada September 2024 mencapai 10,85%. Dia mengatakan sektor yang mendorong pertumbuhan kredit tersebut antara lain pertambangan sebesar 26,7%, sektor listrik, gas, dan air sebesar 15,9%, angkutan, telekomunikasi, dan sebagainya sebesar 17,5%, dan sektor jasa dunia usaha 16%.
Baca Juga
BI Gelontorkan Rp 256,1 Triliun Insentif KLM, Ini Target Refocusing
“Ini semua (sektor) sudah diberikan insentif sebelumnya. Sehingga kita sekarang ini memprioritaskan pada sektor-sektor yang labour intensif,” kata Juda.
Juda menjelaskan tiga sektor ke depan yang disasar karena pertumbuhan kreditnya hanya single digit. Sektor pertanian, jelas Juda, pertumbuhan kreditnya hanya tumbuh sebesar 7,4%, sektor pengolahan sebesar 7,22%, dan sektor perdagangan sebesar 8,4%.
“Jadi ini kita menggeser sektor-sektor yang menciptakan lapangan kerja,” kata dia.
Hingga minggu kedua Oktober 2024, BI telah menyalurkan insentif KLM sebesar Rp 256,5 triliun kepada kelompok bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp 119 triliun, bank Badan Usaha Swasta Nasional (BUSN) sebesar Rp 110,2 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebesar Rp 24,6 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) sebesar Rp 2,7 triliun. Insentif KLM tersebut disalurkan kepada sektor-sektor prioritas, yaitu hilirisasi minerba dan pangan, UMKM, sektor otomotif, perdagangan, dan listrik, gas dan air (LGA), serta sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

