Ada Ruang Pangkas Bunga, UI Proyeksi BI Pertahankan BI Rate
JAKARTA, investortrust.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuan, BI Rate, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2024.
“Pemotongan suku bunga acuan oleh BI cenderung belum mendesak untuk dilakukan pada RDG BI Oktober ini. Sehingga, kami berpandangan bahwa BI perlu menahan suku bunga acuannya di 6,00% untuk saat ini,” kata ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky, dalam keterangan di Jakarta, Rabu (16/10/2024).
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok 4% Seiring Meredanya Kekhawatiran soal Pasokan Iran
Faktor Berpengaruh
Riefky menjelaskan langkah menahan suku bunga acuan ini karena muncul tensi geopolitik global, program stimulus di Cina, dan adanya pemilihan umum di Amerika Serikat. Ketiga hal tersebut, ulas Riefky, menjadi faktor yang dapat mempengaruhi aliran arus modal asing ke Indonesia dan fluktuasi nilai tukar rupiah mendatang.
Dari sisi domestik, Riefky menjelaskan Indonesia masih menghadapi deflasi selama lima bulan terakhir. Riefky menjelaskan, deflasi yang terjadi karena sisi penawaran yang didorong oleh penurunan harga pangan bergejolak (volatile food) karena inisiatif yang dilakukan pemerintah, yaitu fasilitasi distribusi pangan, pengembangan kios pangan, dan kerja sama antarwilayah.
Baca Juga
Emas Batangan Antam Naik Rp 3.000, Dibanderol Rp 1.491.000 per gram
Selain deflasi harga pangan bergejolak, Riefky mewanti-wanti inflasi inti mencatatkan penurunan untuk ketiga kalinya dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini memberikan sinyal terjadi penurunan tekanan dari sisi permintaan dan pelemahan daya beli konsumen.
“Meskipun dampak dari sisi permintaan mungkin tidak sebesar dampak dari sisi penawaran, hal itu tetap berkontribusi terhadap pelemahan inflasi dan tidak dapat diindahkan,” kata dia.
Rupiah Cenderung Stabil
Riefky juga memberi catatan mengenai mulai stabilnya rupiah dalam satu pekan terakhir. Dia mengatakan rupiah cenderung stabil di kisaran Rp 15.660 per US$, meskipun depresiasi terjadi di tengah arus modal keluar karena ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pilpres di AS.
“Meskipun cadangan devisa turun menjadi US$ 149,9 miliar, BI diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di 6,00% pada pertemuan bulan OKtober,” ujar dia.
Meski memproyeksikan BI bakal menahan BI Rate, Riefky menyebut sebetulnya BI masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga lebih di sisa 2024. Penurunan bunga ini dapat mendorong permintaan.
“Instrumen ini dapat digunakan di masa mendatang, untuk mendorong permintaan agregat di sektor riil apabila tren deflasi berlanjut,” ujar dia.
Sebelumnya, pada RDG September 2024, BI memutuskan menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%. Suku bunga deposit facility juga turun sebesar 25 bps menjadi 5,25% dan lending facility turun 25 bps menjadi 6,75%.
“Keputusan ini konsisten dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi pada tahun 2024 dan 2025 yang terkendali dalam sasaran 2,5±1%. Selain itu, penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah, dan perlunya upaya untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo.

