Utang Luar Negeri Indonesia Naik 7,3% dan Lelang SRBI Raup Rp 18 Triliun, Kurs Rupiah Tetap
JAKARTA, investortrust.id - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Agustus 2024 tetap terkendali. Posisi ULN Indonesia pada Agustus lalu tercatat senilai 425,1 miliar dolar AS, atau secara tahunan naik 7,3%.
"Perkembangan ULN tersebut bersumber dari sektor publik dan sektor swasta. Posisi ULN RI Agustus 2024 juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan di Jakarta, Senin (14/10/2024).
Baca Juga
Cek, Siapa Terima Insentif dalam Regulasi Baru Pengguna Gas Bumi Murah?
Sementara itu, pada lelang terbaru Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) pada 11 Oktober 2024, BI tercatat meraup dana Rp 18 triliun. Transaksi SRBI tersebut terbanyak pada tenor 12 bulan dengan suku bunga tertinggi, yakni 6,83%%, senilai Rp 16,47 triliun.
Berikutnya transaksi SRBI tenor 6 bulan dengan suku bunga 6,69%, senilai Rp 1 triliun. Terakhir, yang bertenor 9 bulan dengan suku bunga 6,79%, senilai Rp 0,53 triliun.
Seiring dengan itu, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdasarkan data RTI tetap hingga siang ini, meski indeks dolar AS tercatat menguat. Nilai tukar mata uang Garuda terhadap greenback tercatat tetap di posisi Rp 15.575 per dolar AS pada pukul 12.25.
Sementara berdasarkan data Yahoo Finance, indeks dolar AS bergerak menguat ke 103,02. Dibanding hari perdagangan sebelumnya, indeks terangkat 0,13 poin atau 0,13%. Secara year to date, DXY ini menguat 1,67%.
ULN Pemerintah US$ 200,4 Miliar
Bank Sentral Indonesia mencatat, ULN pemerintah tetap terkendali. Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2024 sebesar 200,4 miliar dolar AS. Utang tumbuh sebesar 4,6% year on year, lebih tinggi dari pertumbuhan pada Juli 2024 sebesar 0,6% (yoy).
Perkembangan ULN tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik. Hal ini seiring dengan semakin terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
"Sebagai salah satu instrumen pembiayaan APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif. Selain itu, belanja prioritas guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," ujar Ramdan Denny.
ULN pemerintah dinilai tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja. Ini antara lain belanja pada Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (20,9% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (18,9%); Jasa Pendidikan (16,8%); Konstruksi (13,6%); serta Jasa Keuangan dan Asuransi (9,3%).
"Posisi ULN pemerintah tetap terkendali. Ini mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN pemerintah," tandas Ramdan Denny.
ULN Swasta Terkendali
BI menilai ULN swasta juga tetap terkendali. Pada Agustus 2024, posisi ULN swasta tercatat sebesar 197,8 miliar dolar AS, atau tumbuh sebesar 1,3% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Juli 2024 sebesar 0,5% (yoy).
Perkembangan ULN tersebut terutama didorong oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang mencatatkan pertumbuhan 1,6% (yoy). "Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 79,3% dari total ULN swasta. ULN swasta juga tetap didominasi oleh ULN jangka panjang, dengan pangsa mencapai 75,5% terhadap total ULN swasta," rincinya.
Rasio terhadap PDB
Ramdan Denny menegaskan, secara umum, struktur ULN Indonesia tetap sehat. Hal ini didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.
"Itu tecermin dari rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terjaga sebesar 31,0%. Selain itu, didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,3% dari total ULN," paparnya.
Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, lanjut dia, Bank Indonesia dan pemerintah RI terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.
Baca Juga
Badai AS dan Kekhawatiran Israel-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak 4%

