Simak, Bank Dunia Soroti Dampak Konflik Timur Tengah bagi Perekonomian Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo memaparkan dampak konflik di Timur Tengah. Ketegangan di wilayah tersebut akan mengganggu transportasi pasokan barang yang melewati Terusan Suez.
“Kapal-kapal yang menuju wilayah ini, alih-alih datang dengan cepat melalui Terusan Suez, kini mengambil rute panjang yang berliku-liku melalui Tanjung Harapan. Itu berarti biaya pengiriman saat ini 40% lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi,” kata Aaditya saat acara East Asia and Pacific Economic Update, yang digelar daring, Kamis (10/10/2024).
Baca Juga
Indeks Dolar Melemah, Kurs Rupiah Dibuka Terkoreksi Kamis Pagi
Harga Minyak Naik
Mattoo mengatakan, dengan jalan yang memutar, terjadi risiko peningkatan harga komoditas minyak. Tak hanya itu, transportasi barang juga mengganggu ekspor dari Asia Timur dan Pasifik ke belahan dunia lain.
Matto menjelaskan kondisi geopolitik juga diproyeksi bakal menciptakan proteksi perdagangan yang makin kuat. Jika terjadi, hal itu akan memicu penetapan tarif perdagangan secara khusus, pembatasan ekspor, hingga kebijakan baru industri yang membuat produsen memilih bahan baku domestik, alih-alih dari luar negaranya.
Mattoo menjelaskan restriksi perdagangan tengah meningkat di kawasan Asia Timur dan Pasifik, yang melingkupi Indonesia juga. Padahal, andil ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi pada wilayah ini besar.
“Dan itu menjadi perhatian bagi kami. Seperti yang saya katakan beberapa waktu lalu, wilayah ini berkembang melalui keterbukaan terhadap perdagangan dan investasi, baik di dalam negeri maupun di pasar luar negerinya,” ucap dia.
Baca Juga
Jelang Pergantian Pemerintahan, Penjualan Eceran Diperkirakan Tetap Tumbuh dan Inflasi Menurun
Perlambatan Ekonomi Cina
Selain restriksi perdagangan, pertumbuhan di kawasan Asia Timur dan Pasifik juga dapat kehilangan momentum karena melambatnya pertumbuhan ekonomi di Cina. “Kekhawatiran ekonomi yang harus kita pertimbangkan adalah bahwa wilayah ini akan mendapatkan manfaat lebih sedikit dari pertumbuhan Cina, seiring dengan melambatnya pertumbuhan mereka,” tutur dia.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik Manuela V Ferro menyampaikan prediksi pertumbuhan ekonomi di wilayah ini sebesar 4,8% pada 2024. Pertumbuhan akan melambat menjadi 4,4% pada 2025.
“Kami juga berharap bahwa paket fiskal dan moneter yang baru saja diumumkan Cina dapat membantu. Ini dapat membantu dalam jangka pendek,” kata Manuela.
Manuela menjelaskan untuk jangka panjang dibutuhkan reformasi struktural guna membuka perdagangan dan sumber pertumbuhan baru.
Sementara sebelumnya, Bank Dunia melaporkan, di antara negara-negara besar di kawasan Asia Timur dan Pasifik, hanya Indonesia yang diperkirakan mengalami pertumbuhan ekonomi 2024 dan 2025 setara atau di atas tingkat pertumbuhan sebelum pandemi. Sementara itu, pertumbuhan di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam diperkirakan berada di bawah tingkat pertumbuhan sebelum pandemi.

