BI Pertimbangkan Penurunan BI Rate, Pantau Kebijakan Moneter AS dan China
JAKARTA, investortrust.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung menyebut peluang penurunan suku bunga acuan BI Rate masih mempertimbangkan sejumlah faktor. Adapun faktor di antaranya suku bunga kebijakan di Amerika Serikat (AS), Eropa, perkembangan kebijakan stimulus ekonomi di China, dan kondisi inflasi domestik.
Juda Agung juga menyebut peluang penurunan itu diproyeksikan setelah BI menurunkan BI Rate acuan menjadi 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2024.
"Yang tentu saja kami terus mencermati apakah ada ruang penurunan suku bunga lebih lanjut," kata Juda Agung saat peluncuran Kajian Stabilitas Keuangan Nomor 43 di Kantor Pusat BI, Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Juda mengatakan inflasi domestik telah mereda, dan yang terjadi justru deflasi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei hingga September 2024. Dia mengatakan, selain tingkat inflasi domestik, kondisi inflasi yang tinggi di negara-negara maju seperti AS yang diperkirakan mulai mengalami penurunan disebutkan Juda akan membuka peluang meredanya ketidakpastian global.
Baca Juga
"Nah alhamdulillah saat ini ketidakpastian makin mereda, sejalan dengan terus melambatnya inflasi di berbagai negara. Di AS inflasi diperkirakan akan mendekati sasaran sebesar 2% di tengah meningkatnya angka pengangguran," ucap Juda Agung.
Selain meredanya ketidakpastian global, Juda juga menyoroti semakin derasnya aliran modal asing. Dia menyebut dengan aliran dana yang masuk, stabilitas sistem keuangan di Indonesia yang semakin membaik, termasuk dari sisi pasar keuangan dan penguatan nilai tukar rupiah.
"Rupiah menguat yang kemudian buka ruang penurunan suku bunga. Di sektor perbankan juga ketahanan permodalan yang tinggi, likuiditas yang memadai, dan risiko kredit yang terkendali juga terus mendorong pertumbuhan kinerja intermediasi perbankan yang hingga Agustus kemarin di 11,4% year on year,” kata dia.
Dengan kondisi yang membaik tersebut, Juda mengatakan perbankan di Indonesia juga akan semakin gencar menyalurkan kredit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan. Dia mengatakan target kucuran kredit di kisaran 10-12% pada tahun ini akan tercapai.
"Kebijakan makroprudensial akan tetap longgar untuk mendukung kredit perbankan, ketersediaan likuiditas di perbankan tetap memadai, sehingga diharapkan bank dapat mencapai target kredit tahun ini 10-12%," kata dia.

