Ekonom Bank Mandiri Ungkap Berderet Tantangan Pengelolaan APBN 2025
BANTEN, investortrust.id - Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Salah satunya, kata Andry, yaitu perlambatan ekonomi global.
“Apa tantangan terhadap APBN kita? Pertama, global economic slowdown. Kita lihat flow-nya (ke) lower emerging market, export demand yang akan berdampak pada turunnya harga komoditas dan pelebaran current account deficit (CAD)” kata Andry saat taklimat media di Serang, Banten, Rabu (25/9/2024).
Andry mengatakan masalah lain yang perlu menjadi kewaspadaan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka saat mengelola APBN 2025 yaitu guncangan geopolitik. Dia setidaknya memaparkan tiga faktor utama, pertama konflik Timur Tengah dan gejolak di Rusia dan Ukraina, potensi konflik antara China dan Taiwan serta Amerika Serikat (AS), dan hasil dari pemilu presiden di AS.
Baca Juga
Anggaran Program Quick Wins Ditambah Rp 8 Triliun, Ini Penjelasannya
Implikasi dampak perang di Timur Tengah dan gejolak di Rusia dan Ukraina, kata Andry, akan berimplikasi terhadap harga minyak dunia. Selain itu, kondisi itu diperkirakan akan menaikkan biaya logistik.
Meski potensi konflik China dan Taiwan, serta AS, kecil, tetapi itu bisa memberikan dampak bagi sektor manufaktur global. “Karena China, Taiwan, dan Korea Selatan, serta AS berdampak pada industri semikonduktor. Memang belum terjadi tapi kita harus antisipasi,” kata dia.
Sementara itu, hasil dari pemilu presiden di AS berpotensi memunculkan lingkaran perang dagang dan menurunnya harga komoditas. Ini karena hasil pilpres di AS memunculkan friendshoring dan nearshoring.
Baca Juga
Undang-Undang APBN 2025 Disahkan, Para Ekonom Beri Masukan Ini
“Kemudian tantangan lainnya adalah investor appetite di pasar negara berkembang,” kata dia.
Andry mengatakan kompetisi untuk mendapatkan investasi dan pergeseran siklus untuk mendapatkan modal akan terjadi. Meski demikian, Andry menyelipkan optimistis untuk tantangan ini. Baginya, Indonesia masih menjadi pasar yang relatif menarik dibandingkan negara-negara di kawasan Asia lain.
“Bahkan kalau kita lihat (analisis) Ray Dalio, Indonesia masuk posisi ketiga setelah India dan UEA. Memang ini adalah kesempatan untuk menangkap investasi yang diperlukan pemerintah berikutnya, namun butuh syarat di mana kita harus makin kompetitif dan berdaya saing,” ujar dia.

