Perekonomian Global Membaik, Menkeu Proyeksikan Ekonomi AS Alami Softlanding
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan perekonomian global membaik seiring keputusan the Fed yang memangkas Fed Fund Rate (FFR) sebesar 50 basis poin (bps) pada September 2024 dari 5,5% menjadi 4,75% membawa angin segar bagi perekonomian global.
“Keputusan FFR untuk diturunkan 50 bps, menghasilkan sentimen positif. Ini karena sudah ditunggu (pasar global)” kata Sri Mulyani saat konferensi pers APBN edisi September 2024, di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (23/9/2024).
Sri Mulyani mengatakan penurunan FFR sudah ditunggu pasar. Kondisi ini, kata Sri Mulyani, didukung inflasi di Amerika Serikat (AS) yang tercatat sebesar 2,5%.
Perkembangan ini memunculkan kepercayaan diri dari pasar mengenai perekonomian AS yang akan mengalami softlanding. Artinya, kata Sri Mulyani, penurunan dari inflasi tidak harus diikuti dengan perlemahan ekonomi secara drastis.
Baca Juga
Pasar Asia Pasifik Rontok Terimbas Sentimen Ekonomi AS, Nikkei Anjlok 3%
“Sehingga penurunan inflasi akan diiringi pertumbuhan ekonomi yang sedikit softening, tapi tidak crash,” kata dia.
Meski FFR diturunkan situasi global belum mendukung optimistis perekonomian. “Suasana geopolitik tidak,” kata dia.
Sri Mulyani menjelaskan sentimen global masih terasa negatif. Situasi yang memanas antara Rusia dan Ukraina masih menjadi sorotan. Sementara itu, eskalasi konflik terus memanas di Timur Tengah yang melibatkan Israel dan Hizbullah.
“Ini menimbulkan downside risk, ada yang positif dan ada yang negatif,” kata dia.
Selain geopolitik, perkembangan perekonomian yang kurang menggembirakan masih terjadi di Eropa. Perekonomian di Benua Biru, kata Sri Mulyani, masih mengalami stagnasi.
“Meskipun inflasi menurun dibanding tahun lalu. Inflasi sudah mengalami adjustment, tapi inflasi dari sektor jasa masih tinggi,” ujar dia.
Perekonomian China, negara mitra dagang Indonesia, juga masih mengalami perlambatan. Bendahara Negara menyebut langkah pemerintah China mengatasi masalah domestik belum menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan.
Baca Juga
Imbal Hasil USTreasury Merosot Dipicu Kekhawatiran Prospek Ekonomi AS
“Sehingga ekspektasi pertumbuhan ekonomi China akan terus di bawah 5%, atau 4,7% di kuartal II-2024. Namun belum ada tanda-tanda di sektor properti, maupun konsumsi rumah tangga yang bisa mendongkrak atau mengkompensasi. Selain itu kenaikan pinjaman pemerintah daerah di China juga memberikan dampak negatif,” kata dia.
Sri Mulyani mengatakan, dari sisi ekspor, AS dan negara-negara di Eropa kompak untuk menahan ekspor China. Itu dilakukan dengan penetapan berbagai tarif masuk.
“Jadi secara overall dari perekonomian global ada good news, dari FFR dan AS yang diperkirakan softlanding, tapi dari negara-negara lain masih ada stagnasi, dari sisi geopolitik risiko masih tinggi. Secara umum ada spot bright yang bagus,” ucap dia.

